Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Dinukil dari www.asysyariah.com
Nama tersebut termasuk Al-Asma`ul Husna, sebagaimana terdapat dalam nash Al-Quran dan Hadits. Di dalam Al-Quran di antaranya di Surat Al-Baqarah ayat 129:
إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Sedangkan di dalam hadits di antaranya diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَفَاةً عُرَاةً غُرْلاً كَمَا خُلِقُوا.... فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Manusia dikumpulkan di Hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan sebagaimana dahulu mereka diciptakan….Maka aku mengatakan seperti yang dikatakan seorang hamba yang shalih: Jika engkau siksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau ampuni mereka, sesungguhnya Engkau adalah Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Maha Bijaksana.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah… Bab Ma Ja`a fi Sya`nil Hasyr no. 2423. Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan: Shahih)
Adapun makna nama Allah Al-’Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah.
Al-‘Izzah menurut para ulama memiliki tiga makna:
Al-’Izzah yang berasal dari kata عَزَّ-يَعِزًُّ artinya pertahanan diri dari musuh yang hendak menyakiti-Nya sehingga tidak mungkin tipu dayanya akan sampai kepada-Nya. Sebagaimana dalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي ...
“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tak akan dapat mencelakai Aku, sehingga membuat Aku celaka…”
Al-’Izzah yang berasal dari kata عَزَّ-يَعُزُّ artinya mengalahkan dan memaksa. Contoh penggunaan kata itu dengan makna tersebut:
إِنَّ هذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” (Shad: 23)
Sehingga maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Perkasa, memaksa dan mengalahkan musuh-musuh-Nya, sedang musuh-Nya tidak mampu mengalahkan dan memaksa-Nya. Makna inilah yang paling banyak penggunaannya.
Dari kata عَزَّ-يَعَزُّ artinya kuat.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan: “Sifat ‘izzah menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bahwa tiada yang menyerupainya dalam hal kuat/mulia kedudukan-Nya.”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan: “Al-’Aziz artinya yang memiliki segala macam kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk dapat mencelakai-Nya. Dan Ia mengalahkan dan menundukkan seluruh yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena kebesaran-Nya.”
Pengaruh Nama Al-’Aziz pada Hamba
Pengaruhnya pada diri seorang hamba, nama tersebut membuahkan sikap tunduk kepada-Nya, dan tidak mungkin bagi makhluk untuk melakukan sesuatu untuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti melakukan riba atau merampok. Karena keduanya merupakan salah satu bentuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 279 dan Al-Ma‘idah ayat 33.
Nama ini juga membuahkan sifat mulia dalam diri seorang mukmin dalam berpegang dengan agamanya, sehingga ia mulia di hadapan orang kafir, merendah di hadapan mukminin.
Selain itu, nama ini juga membuahkan sikap selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kejahatan musuh karena Dia-lah yang Maha Kuat lagi Perkasa.
Sumber Bacaan:
1. Shifatullah Subhanahu wa Ta'ala Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 178
2. At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 105
3. Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 292
4. Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, karya Muhammad Al-Harras, hal. 138
5. Syarh An-Nuniyyah, karya Muhammad Al-Harras, 2/79
6. Syarh Asma`illah Al-Husna, karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 93
7. Tafsir As-Sa’di, hal. 946, dll.
Tampilkan postingan dengan label AL ASMA AL KHUSNA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AL ASMA AL KHUSNA. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Desember 2010
Al-A’la
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma`ul Husna (nama-nama yang paling baik bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah Al-A'la yang berarti Yang Maha Tinggi. Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lain yang semakna adalah Al-’Aly dan Al-Muta’al.
Adapun dalil yang menunjukkan nama-nama tersebut adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى
“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A'la: 1)
2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)
3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ
“Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.” (Ar-Ra'du: 9)
Adapun dari hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana berikut:
1. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata:
كَانَ -يَعْنِي النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ؛ وَفِي سُجُوْدِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
“Adalah Nabi dalam rukuknya membaca ‘subhana rabbiyal-azhim’ (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung); dan dalam sujudnya subhana rabbiyal a'la (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).” [Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil no. 333; Shahih Sunan Abu Dawud no. 871]
2. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
كَلِمَاتُ الْفَرَجِ:
“Kalimat-kalimat untuk jalan keluar:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
‘Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pemurah serta Mulia, Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung Tiada Ilah yang benar kecuali Allah Rabb sekalian langit yang tujuh dan Rabb Arsy yang agung’.” (Shahih, HR. Ibnu Abid-dunya dan Al-Khara`ithi. Lihat Ash-Shahihah no. 2045)
Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup tiga macam ketinggian:
1. ‘Uluwwul-qadr atau uluwwush-shifat
2. ‘Uluwwul-qahr
3. ‘Uluwwudz-dzat.
‘Uluwwul-qadr atau ‘uluwwush-shifat, artinya Ia tinggi/ suci dari segala kekurangan dan aib, serta milik-Nya lah seluruh sifat kesempurnaan. Demikian juga apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala miliki dari sifat-sifat itu adalah yang paling tinggi dan paling sempurna.
‘Uluwwul-qahr artinya Dia yang unggul di atas selain-Nya dan mengalahkan serta mengatur selain-Nya.
‘Uluwwudz-dzat artinya ketinggian Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya (singgasana-Nya), terpisah dari makhluk-Nya, tidak menyatu atau melebur pada diri makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ
“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia naik di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Yunus: 3)
Dari sini, sangatlah keliru bila dikatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di mana-mana.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini segala macam sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala karena semuanya disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits.
Kesalahan dalam Memahami Nama Al-A’la
Sementara ahli bid’ah tidak mengimani ketinggian Dzat-Nya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya, sehingga dari sini -disadari atau tidak- muncul pernyataan bahwa ‘Allah di mana-mana’.
Ada pula yang beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menitis pada makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya.
Ada pula yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bersambung dengan alam, tidak pula terpisah darinya.
Keyakinan ahli bid’ah dengan pelbagai macamnya tadi merupakan keyakinan yang bertentangan dengan dalil dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang sahih. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.
Faedah Mengimani Nama Ini
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Bila seseorang mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala sesuatu, maka dia akan tahu kadar kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya sehingga ia akan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengagungkan-Nya. Dan bila seseorang takut kepada Rabbnya sekaligus mengagungkan-Nya maka diapun akan akan bertaqwa kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.
Sumber Bacaan:
- Shifatullah Azza Wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 186
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Ibnu Utsaimin, hal. 140 dan 340
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 91
- Syarh An-Nuniyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 65 dan 68
- At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 51
- Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 78
- Tafsir As-Sa’di, hal. 946
- Muqaddimah Mukhtashar Al-‘Uluw, hal. 52-53
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma`ul Husna (nama-nama yang paling baik bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala) adalah Al-A'la yang berarti Yang Maha Tinggi. Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lain yang semakna adalah Al-’Aly dan Al-Muta’al.
Adapun dalil yang menunjukkan nama-nama tersebut adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى
“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi.” (Al-A'la: 1)
2. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)
3. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيْرُ الْمُتَعَالِ
“Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.” (Ar-Ra'du: 9)
Adapun dari hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana berikut:
1. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata:
كَانَ -يَعْنِي النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقُولُ فِي رُكُوْعِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ؛ وَفِي سُجُوْدِهِ: سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى
“Adalah Nabi dalam rukuknya membaca ‘subhana rabbiyal-azhim’ (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung); dan dalam sujudnya subhana rabbiyal a'la (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).” [Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ahmad. Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil no. 333; Shahih Sunan Abu Dawud no. 871]
2. Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
كَلِمَاتُ الْفَرَجِ:
“Kalimat-kalimat untuk jalan keluar:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
‘Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Pemurah serta Mulia, Tiada Ilah yang benar kecuali Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung Tiada Ilah yang benar kecuali Allah Rabb sekalian langit yang tujuh dan Rabb Arsy yang agung’.” (Shahih, HR. Ibnu Abid-dunya dan Al-Khara`ithi. Lihat Ash-Shahihah no. 2045)
Ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup tiga macam ketinggian:
1. ‘Uluwwul-qadr atau uluwwush-shifat
2. ‘Uluwwul-qahr
3. ‘Uluwwudz-dzat.
‘Uluwwul-qadr atau ‘uluwwush-shifat, artinya Ia tinggi/ suci dari segala kekurangan dan aib, serta milik-Nya lah seluruh sifat kesempurnaan. Demikian juga apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala miliki dari sifat-sifat itu adalah yang paling tinggi dan paling sempurna.
‘Uluwwul-qahr artinya Dia yang unggul di atas selain-Nya dan mengalahkan serta mengatur selain-Nya.
‘Uluwwudz-dzat artinya ketinggian Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya. Hal itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya (singgasana-Nya), terpisah dari makhluk-Nya, tidak menyatu atau melebur pada diri makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ
“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia naik di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Yunus: 3)
Dari sini, sangatlah keliru bila dikatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di mana-mana.
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini segala macam sifat ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala karena semuanya disebutkan dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits.
Kesalahan dalam Memahami Nama Al-A’la
Sementara ahli bid’ah tidak mengimani ketinggian Dzat-Nya. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya, sehingga dari sini -disadari atau tidak- muncul pernyataan bahwa ‘Allah di mana-mana’.
Ada pula yang beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menitis pada makhluk-Nya atau sebagian makhluk-Nya.
Ada pula yang mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bersambung dengan alam, tidak pula terpisah darinya.
Keyakinan ahli bid’ah dengan pelbagai macamnya tadi merupakan keyakinan yang bertentangan dengan dalil dari Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang sahih. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.
Faedah Mengimani Nama Ini
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Bila seseorang mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala sesuatu, maka dia akan tahu kadar kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya sehingga ia akan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengagungkan-Nya. Dan bila seseorang takut kepada Rabbnya sekaligus mengagungkan-Nya maka diapun akan akan bertaqwa kepada-Nya dan melaksanakan kewajiban-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.
Sumber Bacaan:
- Shifatullah Azza Wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 186
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Ibnu Utsaimin, hal. 140 dan 340
- Syarh Al-Wasithiyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 91
- Syarh An-Nuniyyah karya Muhammad Al-Harras, hal. 65 dan 68
- At-Tanbihat As-Sunniyyah, hal. 51
- Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 78
- Tafsir As-Sa’di, hal. 946
- Muqaddimah Mukhtashar Al-‘Uluw, hal. 52-53
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Bari`
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bari` (البَارِئُ), seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:
هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Dia-lah Allah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Al-Bari’, Al-Mushawwir (Yang Membentuk Rupa), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.” (Al-Hasyr: 24)
وَإِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan kalian), maka bertaubatlah kepada Bari` kalian dan bunuhlah diri kalian. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian di sisi Bari` kalian…’.” (Al-Baqarah: 54)
Makna Al-Bari`
Ibnu Qutaibah rahimahullahu mengatakan: “Di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah (Al-Bari`) dan makna Al-Bari` adalah (Al-Khaliq): Pencipta. Dikatakan (dalam bahasa Arab):
بَرَأَ الْخَلْقَ يَبْرَؤُهُمْ
Artinya ‘menciptakan makhluk’, dan (البَرِيَّة) berarti ‘makhluk’.” (Tafsir Gharibul Qur`an hal. 15, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)
Ibnul Atsir rahimahullahu mengatakan: “Al-Bari` artinya yang menciptakan makhluk tanpa meniru. Akan tetapi lafadz ini lebih memiliki kekhususan pada (penciptaan) makhluk-makhluk hidup, tidak pada makhluk-makhluk yang lain. Lafadz ini jarang sekali dipakai pada (penciptaan) selain makhluk hidup. Sehingga diungkapkan dalam bahasa Arab:
يَبْرَأُ اللهُ النَسَمَةَ
‘Allah menciptakan makhluk hidup.’ (dengan menggunakan kata bara`a, pent.). Dan:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
‘Allah menciptakan langit dan bumi.’ (dengan menggunakan kata khalaqa, pent.).” (Jami’ul Ushul, 4/177, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)
Demikian pula yang dikatakan dalam Lisanul ‘Arab.
Jadi di sinilah salah satu perbedaan makna antara nama Allah Al-Khaliq dan Al-Bari`.
Abu Hilal Al-‘Askari rahimahullahu mengatakan: “(Kata) (بَرَأَ اللهُ الْخَلْقَ) artinya ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala membeda-bedakan bentuk mereka’.” (Al-Furuq Al-Lughawiyyah hal. 227)
Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menjelaskan ayat ke-24 surat Al-Hasyr berkata: “Al-Khalqu (yang darinya diambil kata Al-Khaliq, pent.) artinya menetapkan. Dan Al-Bar`u (yang darinya diambil kata Al-Bari`, pent.) artinya Al-Faryu, yaitu melaksanakan dan memunculkan atau mengadakan apa yang Dia tetapkan menuju ke alam nyata. Dan tidak semua yang bisa menetapkan sesuatu dan mengaturnya mampu untuk melaksanakan dan mewujudkannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang penyair memuji orang lain:
وَلَأَنْتَ تَفْرِي مَا خَلَقْتَ
وَبَعْضُ الْقَوْمِ يَخْلُقُ ثُمَّ لاَ يَفْرِي
Sungguh dirimu mewujudkan apa yang kamu tetapkan
sementara sebagian kaum menetapkan lalu tidak bisa mewujudkan
Yakni engkau mewujudkan dan mengadakan apa yang engkau tetapkan, berbeda dengan selainmu, yang tidak mampu melaksanakan apa yang diinginkan. Sehingga, makna Al-Khalq adalah menetapkan, sedangkan makna Al-Faryu (Al-Bar`u) adalah melaksanakannya.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 4/367. Lihat juga Tafsir Al-Qurthubi, 18/48)
Kesimpulan
Dari nukilan penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa makna Al-Bari` adalah Yang menciptakan tanpa meniru, dan mewujudkan ke alam nyata apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir rahimahullahu– serta membedakan antara satu makhluk dengan yang lain –sebagaimana penjelasan Abu Hilal Al-‘Askari rahimahullahu–. Dan kata Al-Bari` lebih akrab dengan penciptaan makhluk hidup, –sebagaimana penjelasan Ibnul Atsir rahimahullahu–.
Buah Mengimani Nama Allah Al-Bari`
Dengan mengimani nama tersebut serta mengetahui maknanya, kita semakin menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Hebat, serta mengetahui bagaimana luasnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemampuan-Nya. Di mana tidak mungkin ada yang melakukan itu semua kecuali Dzat yang Maha Berilmu dan Maha Mampu. Ini semua mestinya membuat kita semakin tunduk kepada-Nya dan semakin patuh. Sebagaimana juga mestinya membuat kita semakin bersyukur kepada-Nya karena kita semua –dengan bentuk ciptaan yang bagus dan indah ini– adalah buah dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.
Wallahu a’lam.
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bari` (البَارِئُ), seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:
هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Dia-lah Allah Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Al-Bari’, Al-Mushawwir (Yang Membentuk Rupa), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik.” (Al-Hasyr: 24)
وَإِذْ قَالَ مُوْسَى لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu (sebagai sesembahan kalian), maka bertaubatlah kepada Bari` kalian dan bunuhlah diri kalian. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian di sisi Bari` kalian…’.” (Al-Baqarah: 54)
Makna Al-Bari`
Ibnu Qutaibah rahimahullahu mengatakan: “Di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah (Al-Bari`) dan makna Al-Bari` adalah (Al-Khaliq): Pencipta. Dikatakan (dalam bahasa Arab):
بَرَأَ الْخَلْقَ يَبْرَؤُهُمْ
Artinya ‘menciptakan makhluk’, dan (البَرِيَّة) berarti ‘makhluk’.” (Tafsir Gharibul Qur`an hal. 15, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)
Ibnul Atsir rahimahullahu mengatakan: “Al-Bari` artinya yang menciptakan makhluk tanpa meniru. Akan tetapi lafadz ini lebih memiliki kekhususan pada (penciptaan) makhluk-makhluk hidup, tidak pada makhluk-makhluk yang lain. Lafadz ini jarang sekali dipakai pada (penciptaan) selain makhluk hidup. Sehingga diungkapkan dalam bahasa Arab:
يَبْرَأُ اللهُ النَسَمَةَ
‘Allah menciptakan makhluk hidup.’ (dengan menggunakan kata bara`a, pent.). Dan:
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
‘Allah menciptakan langit dan bumi.’ (dengan menggunakan kata khalaqa, pent.).” (Jami’ul Ushul, 4/177, dinukil dari Shifatullah ‘Azza Wa Jalla Al-Waridah Fil Kitabi Was-Sunnah hal. 61-62)
Demikian pula yang dikatakan dalam Lisanul ‘Arab.
Jadi di sinilah salah satu perbedaan makna antara nama Allah Al-Khaliq dan Al-Bari`.
Abu Hilal Al-‘Askari rahimahullahu mengatakan: “(Kata) (بَرَأَ اللهُ الْخَلْقَ) artinya ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala membeda-bedakan bentuk mereka’.” (Al-Furuq Al-Lughawiyyah hal. 227)
Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menjelaskan ayat ke-24 surat Al-Hasyr berkata: “Al-Khalqu (yang darinya diambil kata Al-Khaliq, pent.) artinya menetapkan. Dan Al-Bar`u (yang darinya diambil kata Al-Bari`, pent.) artinya Al-Faryu, yaitu melaksanakan dan memunculkan atau mengadakan apa yang Dia tetapkan menuju ke alam nyata. Dan tidak semua yang bisa menetapkan sesuatu dan mengaturnya mampu untuk melaksanakan dan mewujudkannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seorang penyair memuji orang lain:
وَلَأَنْتَ تَفْرِي مَا خَلَقْتَ
وَبَعْضُ الْقَوْمِ يَخْلُقُ ثُمَّ لاَ يَفْرِي
Sungguh dirimu mewujudkan apa yang kamu tetapkan
sementara sebagian kaum menetapkan lalu tidak bisa mewujudkan
Yakni engkau mewujudkan dan mengadakan apa yang engkau tetapkan, berbeda dengan selainmu, yang tidak mampu melaksanakan apa yang diinginkan. Sehingga, makna Al-Khalq adalah menetapkan, sedangkan makna Al-Faryu (Al-Bar`u) adalah melaksanakannya.” (Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 4/367. Lihat juga Tafsir Al-Qurthubi, 18/48)
Kesimpulan
Dari nukilan penjelasan para ulama di atas dapat disimpulkan bahwa makna Al-Bari` adalah Yang menciptakan tanpa meniru, dan mewujudkan ke alam nyata apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan –sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir rahimahullahu– serta membedakan antara satu makhluk dengan yang lain –sebagaimana penjelasan Abu Hilal Al-‘Askari rahimahullahu–. Dan kata Al-Bari` lebih akrab dengan penciptaan makhluk hidup, –sebagaimana penjelasan Ibnul Atsir rahimahullahu–.
Buah Mengimani Nama Allah Al-Bari`
Dengan mengimani nama tersebut serta mengetahui maknanya, kita semakin menyadari kekuasaan Allah Yang Maha Hebat, serta mengetahui bagaimana luasnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemampuan-Nya. Di mana tidak mungkin ada yang melakukan itu semua kecuali Dzat yang Maha Berilmu dan Maha Mampu. Ini semua mestinya membuat kita semakin tunduk kepada-Nya dan semakin patuh. Sebagaimana juga mestinya membuat kita semakin bersyukur kepada-Nya karena kita semua –dengan bentuk ciptaan yang bagus dan indah ini– adalah buah dari nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.
Wallahu a’lam.
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Bashir
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Al-Bashir (الْبَصِيرُ) adalah salah satu Al-Asma`ul Husna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut nama-Nya ini dalam beberapa ayat, di antaranya dalam surat An-Nisa` ayat 58:
إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Juga dalam Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, juga disebutkan:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ -أَوْ قَالَ- أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kami menaiki dataran tinggi, maka kami mengucapkan takbir.1 Maka beliau mengatakan: ‘Wahai manusia kasihilah diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli atau jauh, akan tetapi Ia Maha Mendengar dan Maha Melihat.’
Lalu beliau mendatangiku, sementara aku sedang mengucapkan dalam diriku: ‘La haula wala quwwata illa billah.’ Lalu beliau mengatakan: ‘Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan La haula wala quwwata illa billah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga.’ Atau beliau mengatakan: ‘Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta kekayaan di surga? La haula wala quwwata illa billah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5905, 7386)
Dengan demikian, maka kita mengimani bahwa salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bashir (البَصِير), artinya Yang Maha Melihat. Dan dengan demikian, berarti salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Bashar (البَصَر) yakni melihat.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Al-Bashir maknanya adalah Yang melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Maka, Ia melihat langkah semut kecil yang hitam di malam yang kelam di atas batu yang keras. Ia juga melihat apa yang di bawah tujuh bumi sebagaimana melihat apa yang di atas langit yang tujuh. Ia juga mendengar dan melihat siapa saja yang berhak mendapatkan balasan-Nya sesuai hikmah-Nya. Dan makna yang terakhir ini kembali kepada hikmah-Nya.” (Tafsir As-Sa’di)
Dalam ayat dan hadits yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat melihat dengan sebutan ru’yah (يَرَى-رُأْيَةً), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Thaha ayat 46:
قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Allah berkata: Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”
Dan dalam surat Al-‘Alaq ayat 14:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَى
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ اْلإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi: ‘Apakah ihsan itu?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu’.” (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim)
Qiwamussunnah Al-Ashfahani rahimahullahu mengatakan: “Maka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhluk. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia melihat apa yang berada di dalam lautan berikut kegelapannya, sebagaimana ia melihat apa yang di langit. Sementara manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang tertutupi antara dia dengannya...
Terkadang nama itu sama, akan tetapi maknanya berbeda.” (Al-Hujjah, 1/181)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pula dalam Al-Qur`an sifat An-Nazhar (النَظَر) yang artinya juga melihat. Firman-Nya:
وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.” (Ali ‘Imran: 77)
Sifat ini juga disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim)
Dalam ayat dan hadits yang lain juga disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki mata. Dan ini adalah sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Tentunya mata Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mata makhluk yang identik dengan kelemahan dan kekurangan. Nama bisa sama, akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidaklah ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Tentang sifat ini, telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam beberapa ayat:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah bahtera itu dengan penglihatan mata Kami dan petunjuk Kami.” (Hud: 37)
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
“Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.” (Thaha: 39)
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan dari Rabbmu, maka sesungguhnya kamu dalam penglihatan mata Kami.” (Ath-Thur: 48)
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan:
قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: {إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا} فَوَضَعَ إِصْبَعَهُ الدُّعَاءِ عَلىَ عَيْنَيْهِ وَإِبْهَامَهُ عَلىَ أُذُنَيْهِ
"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat ini (artinya): ‘Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat.’ Lalu beliau meletakkan jari telunjuknya pada kedua matanya dan ibu jarinya pada pada dua telinganya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dalam Kitabut Tauhid hal. 43, Ad-Darimi dalam Radd ‘alal Marisi hal. 47, Ibnu Hibban no. 265, Al-Baihaqi dalam Al-Asma` wash Shifat no. 390. Dan lafadz hadits di atas adalah lafadz Ad-Darimi rahimahullahu. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Al-Harras rahimahullahu berkata: “Makna hadits ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan mata. Sehingga hadits ini merupakan bantahan terhadap Mu’tazilah dan sebagian Asy’ariyyah yang berpendapat bahwa pendengaran-Nya artinya pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat didengar, dan penglihatan-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat dilihat. Tanpa diragukan lagi, ini adalah tafsir yang salah. Karena pendengaran dan penglihatan itu maknanya lebih dari sekadar pengetahuan, karena pengetahuan terkadang dapat diperoleh tanpanya.” (Syarh Nuniyyah, 2/72-73)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
إِنَّ اللهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْكُمْ إِنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى عَيْنِهِ- وَإِنَّ الـْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Allah tidak tersamarkan pada kalian. Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah (dan beliau mengisyaratkan kepada matanya). Dan sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal mata sebelah kanannya cacat, seolah matanya sebiji anggur yang menonjol.” (HR. Al-Bukhari no. 4707 dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)
Ibnu Khuzaimah rahimahullahu mengatakan: “Maka wajib atas setiap mukmin untuk menetapkan bagi Penciptanya, Pembentuk rupanya, apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta dan Pembentuk rupa untuk diri-Nya, yaitu mata. Adapun selain mukmin, dia menolak dan meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur`an, dengan keterangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala angkat sebagai penjelas apa yang datang dari-Nya.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an agar kamu terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua mata, maka keterangan beliau sesuai dengan keterangan Al-Qur`an.”
Beliau juga mengatakan: “Dan kami mengatakan: ‘Rabb kami, Sang Pencipta, memiliki dua mata. Dengan keduanya, Ia melihat apa yang berada di bawah tanah dan bahkan di bawah bumi yang ketujuh dan apa yang berada pada langit-langit yang tinggi.”
Demikian pula hal ini diterangkan oleh Al-Lalaka`i rahimahullahu dalam Ushulul I’tiqad.
Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah bersepakat bahwa mata Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua. Yang mendukung ijma’ (kesepakatan) ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal: ‘Sesungguhnya ia buta sebelah, dan Rabb kalian tidak buta sebelah’.” (‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah)
Buah Mengimani Nama Al-Bashir
Tentu buah mengimani nama ini sangat jelas, yaitu akan menumbuhkan sikap muraqabah pada diri orang yang mengimaninya. Yakni, dia senantiasa merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ia selalu mawas diri dan mempertimbangkan segala langkah yang akan ia tempuh dalam gerak-geriknya.
Sumber Bacaan:
Shifatullah Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah
Tafsir As-Sa’di
Syarh Nuniyyah, dll.
1 Dalam sebagian lafadz: “Sampai kami keraskan suara kami.” (HR. Al-Bukhari, no. 2770)
Dinukil dari www.asysyariah.com
Al-Bashir (الْبَصِيرُ) adalah salah satu Al-Asma`ul Husna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut nama-Nya ini dalam beberapa ayat, di antaranya dalam surat An-Nisa` ayat 58:
إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Juga dalam Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, juga disebutkan:
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا. ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ -أَوْ قَالَ- أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila kami menaiki dataran tinggi, maka kami mengucapkan takbir.1 Maka beliau mengatakan: ‘Wahai manusia kasihilah diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru Dzat yang tuli atau jauh, akan tetapi Ia Maha Mendengar dan Maha Melihat.’
Lalu beliau mendatangiku, sementara aku sedang mengucapkan dalam diriku: ‘La haula wala quwwata illa billah.’ Lalu beliau mengatakan: ‘Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan La haula wala quwwata illa billah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga.’ Atau beliau mengatakan: ‘Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta kekayaan di surga? La haula wala quwwata illa billah’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5905, 7386)
Dengan demikian, maka kita mengimani bahwa salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Bashir (البَصِير), artinya Yang Maha Melihat. Dan dengan demikian, berarti salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Bashar (البَصَر) yakni melihat.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Al-Bashir maknanya adalah Yang melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Maka, Ia melihat langkah semut kecil yang hitam di malam yang kelam di atas batu yang keras. Ia juga melihat apa yang di bawah tujuh bumi sebagaimana melihat apa yang di atas langit yang tujuh. Ia juga mendengar dan melihat siapa saja yang berhak mendapatkan balasan-Nya sesuai hikmah-Nya. Dan makna yang terakhir ini kembali kepada hikmah-Nya.” (Tafsir As-Sa’di)
Dalam ayat dan hadits yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat melihat dengan sebutan ru’yah (يَرَى-رُأْيَةً), sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam surat Thaha ayat 46:
قَالَ لاَ تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى
“Allah berkata: Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”
Dan dalam surat Al-‘Alaq ayat 14:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَى
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ اْلإِحْسَانِ. قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi: ‘Apakah ihsan itu?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu’.” (Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim)
Qiwamussunnah Al-Ashfahani rahimahullahu mengatakan: “Maka, penglihatan Sang Pencipta tidak seperti penglihatan makhluk, dan pendengaran Sang Pencipta tidak seperti pendengaran makhluk. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat apa yang di bawah tanah dan apa yang di bawah bumi yang ketujuh, serta apa yang di langit-langit yang tinggi. Tidak ada sesuatupun yang luput atau tersembunyi dari pandangan-Nya. Ia melihat apa yang berada di dalam lautan berikut kegelapannya, sebagaimana ia melihat apa yang di langit. Sementara manusia hanya melihat apa yang dekat dengan pandangannya, adapun yang jauh tidak mampu mereka lihat. Dan manusia tidak mampu melihat sesuatu yang tertutupi antara dia dengannya...
Terkadang nama itu sama, akan tetapi maknanya berbeda.” (Al-Hujjah, 1/181)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pula dalam Al-Qur`an sifat An-Nazhar (النَظَر) yang artinya juga melihat. Firman-Nya:
وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat.” (Ali ‘Imran: 77)
Sifat ini juga disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa-rupa dan harta benda kalian, akan tetapi melihat kepada kalbu dan amal kalian.” (Shahih, HR. Muslim)
Dalam ayat dan hadits yang lain juga disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki mata. Dan ini adalah sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Tentunya mata Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mata makhluk yang identik dengan kelemahan dan kekurangan. Nama bisa sama, akan tetapi hakikatnya berbeda. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidaklah ada yang serupa dengan-Nya sesuatu apapun, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Tentang sifat ini, telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam beberapa ayat:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah bahtera itu dengan penglihatan mata Kami dan petunjuk Kami.” (Hud: 37)
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي
“Dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.” (Thaha: 39)
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan dari Rabbmu, maka sesungguhnya kamu dalam penglihatan mata Kami.” (Ath-Thur: 48)
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan:
قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: {إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا} فَوَضَعَ إِصْبَعَهُ الدُّعَاءِ عَلىَ عَيْنَيْهِ وَإِبْهَامَهُ عَلىَ أُذُنَيْهِ
"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat ini (artinya): ‘Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Melihat.’ Lalu beliau meletakkan jari telunjuknya pada kedua matanya dan ibu jarinya pada pada dua telinganya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dalam Kitabut Tauhid hal. 43, Ad-Darimi dalam Radd ‘alal Marisi hal. 47, Ibnu Hibban no. 265, Al-Baihaqi dalam Al-Asma` wash Shifat no. 390. Dan lafadz hadits di atas adalah lafadz Ad-Darimi rahimahullahu. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Al-Harras rahimahullahu berkata: “Makna hadits ini adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendengar dengan pendengaran dan melihat dengan mata. Sehingga hadits ini merupakan bantahan terhadap Mu’tazilah dan sebagian Asy’ariyyah yang berpendapat bahwa pendengaran-Nya artinya pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat didengar, dan penglihatan-Nya adalah pengetahuan-Nya terhadap sesuatu yang dapat dilihat. Tanpa diragukan lagi, ini adalah tafsir yang salah. Karena pendengaran dan penglihatan itu maknanya lebih dari sekadar pengetahuan, karena pengetahuan terkadang dapat diperoleh tanpanya.” (Syarh Nuniyyah, 2/72-73)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
إِنَّ اللهَ لاَ يَخْفَى عَلَيْكُمْ إِنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى عَيْنِهِ- وَإِنَّ الـْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Allah tidak tersamarkan pada kalian. Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah (dan beliau mengisyaratkan kepada matanya). Dan sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal mata sebelah kanannya cacat, seolah matanya sebiji anggur yang menonjol.” (HR. Al-Bukhari no. 4707 dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)
Ibnu Khuzaimah rahimahullahu mengatakan: “Maka wajib atas setiap mukmin untuk menetapkan bagi Penciptanya, Pembentuk rupanya, apa yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta dan Pembentuk rupa untuk diri-Nya, yaitu mata. Adapun selain mukmin, dia menolak dan meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur`an, dengan keterangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala angkat sebagai penjelas apa yang datang dari-Nya.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an agar kamu terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua mata, maka keterangan beliau sesuai dengan keterangan Al-Qur`an.”
Beliau juga mengatakan: “Dan kami mengatakan: ‘Rabb kami, Sang Pencipta, memiliki dua mata. Dengan keduanya, Ia melihat apa yang berada di bawah tanah dan bahkan di bawah bumi yang ketujuh dan apa yang berada pada langit-langit yang tinggi.”
Demikian pula hal ini diterangkan oleh Al-Lalaka`i rahimahullahu dalam Ushulul I’tiqad.
Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Ahlus Sunnah bersepakat bahwa mata Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua. Yang mendukung ijma’ (kesepakatan) ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal: ‘Sesungguhnya ia buta sebelah, dan Rabb kalian tidak buta sebelah’.” (‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah)
Buah Mengimani Nama Al-Bashir
Tentu buah mengimani nama ini sangat jelas, yaitu akan menumbuhkan sikap muraqabah pada diri orang yang mengimaninya. Yakni, dia senantiasa merasa diawasi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ia selalu mawas diri dan mempertimbangkan segala langkah yang akan ia tempuh dalam gerak-geriknya.
Sumber Bacaan:
Shifatullah Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah
Tafsir As-Sa’di
Syarh Nuniyyah, dll.
1 Dalam sebagian lafadz: “Sampai kami keraskan suara kami.” (HR. Al-Bukhari, no. 2770)
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
At-Tawwab
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai diri-Nya dengan nama At-Tawwab ( التَّوَّابُ ),
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan nama-Nya ini dalam ayat-Nya:
فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)
Ibnul Qayyim rahimahullahu menerangkan dengan ringkas tentang nama tersebut pada dua bait sya’ir:
Demikianlah At-Tawwab itu termasuk sifat-sifat-Nya
dan taubat dalam sifat-Nya bermacam dua
taufiq-Nya kepada hamba untuk bertaubat, dan menerima-Nya
setelah taubatnya, dengan karunia Yang Maha memberi karunia.
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras dalam penjelasannya terhadap dua bait syair itu mengatakan: “Adapun nama At-Tawwab artinya adalah yang banyak taubat artinya kembali. Maksudnya, menerima taubat hamba dan mengembalikan kepada hamba berupa ampunan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Asy-Syura: 25)
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (Ghafir: 3)
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat. Maka bilamana muncul tanda kiamat kecil (mati) dengan sampainya nyawa ke tenggorokan atau muncul tanda kiamat besar dengan terbitnya matahari dari arah barat, ketika itu pintu taubat ditutup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. (An-Nisa`: 18)
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabbmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (Al-An’am: 158)
Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.” (Shahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Musa )
Taubat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya ada dua macam:
Pertama:
Bahwa Ia memberikan ilham dan taufiq-Nya untuk bertaubat kepada-Nya serta untuk menelusuri syarat-syarat taubat baik berupa penyesalan (dari perbuatan dosa), istighfar, dan menanggalkan maksiat, bertekad untuk tidak kembali kepada dosanya serta menggantikan dosanya dengan amal shalih.
Kedua:
Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerima taubat hamba-Nya, menyambutnya, serta menghapuskan dosanya, karena taubat yang murni dan benar-benar itu akan melebur kesalahan-kesalahan sebelumnya.
إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)
As-Sa’di rahimahullahu juga menjelaskan dalam tafsirnya: “At-Tawwab adalah yang senantiasa memberikan dan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya serta mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat. Maka semua yang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang murni dan sungguh-sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taubat kepada hamba-Nya, pertama dengan memberikan taufiq-Nya kepada mereka untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh dengan kalbunya menuju kepadanya, serta menerima taubat mereka setelah mereka melakukannya dan mengampuni kesalahannya.”
Buah Mengimani Nama At-Tawwab
Dengan mengimani nama At-Tawwab kita akan mendapatkan banyak manfaat. Di antaranya, akan tumbuh pada diri kita rasa syukur yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan taufiq dan ilham-Nya kepada seorang hamba sehingga muncul pada dirinya keinginan untuk bertaubat serta mencabut diri dari berbagai macam kesalahan dalam bentuk apapun. Kalaulah bukan karena taufiq-Nya niscaya takkan tumbuh dalam diri ini keinginan untuk bertaubat dan kembali keharibaan-Nya.
Dengan mengimani nama itu pula, kita mengetahui dengan pasti bahwa pintu taubat senantiasa terbuka, sehingga tidak ada kata putus asa untuk bertaubat. Tiada kata ‘telanjur basah’ dalam maksiat. Apapun dan berapapun dosanya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan ampunan kepadanya manakala dia dengan sungguh-sungguh bertaubat. Barangkali kita pernah mendengar sebagian kisah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita yang mulia, tentang bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang yang telah membunuh 100 jiwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni pelacur, bahkan yang berbuat kekafiran sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala beri ampunan, ketika mereka bertaubat secara sungguh-sungguh.
Namun yang perlu diperhatikan adalah kesungguh-sungguhan dalam bertaubat dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Harras di atas; menyesali perbuatan dosanya, mencabut diri darinya, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengganti dengan amal shalih, dilakukan sebelum tertutupnya pintu taubat dan bila berkaitan dengan hak orang, mengembalikan hak orang yang kita dzalimi, atau meminta kehalalannya.
Sumber Bacaan:
Tafsir As-Sa’di
Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim karya Al-Harras, 2/101-102
Shifatullah ‘Azza wa Jalla, karya Alwi As-Saqqaf, hal. 77
Syarh Al-Asma`ul Husna, karya Said Al-Qahthani, hal. 109-110
Dinukil dari www.asysyariah.com
Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai diri-Nya dengan nama At-Tawwab ( التَّوَّابُ ),
Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan nama-Nya ini dalam ayat-Nya:
فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37)
Ibnul Qayyim rahimahullahu menerangkan dengan ringkas tentang nama tersebut pada dua bait sya’ir:
Demikianlah At-Tawwab itu termasuk sifat-sifat-Nya
dan taubat dalam sifat-Nya bermacam dua
taufiq-Nya kepada hamba untuk bertaubat, dan menerima-Nya
setelah taubatnya, dengan karunia Yang Maha memberi karunia.
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras dalam penjelasannya terhadap dua bait syair itu mengatakan: “Adapun nama At-Tawwab artinya adalah yang banyak taubat artinya kembali. Maksudnya, menerima taubat hamba dan mengembalikan kepada hamba berupa ampunan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Asy-Syura: 25)
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (Ghafir: 3)
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai tenggorokan atau sebelum matahari terbit dari barat. Maka bilamana muncul tanda kiamat kecil (mati) dengan sampainya nyawa ke tenggorokan atau muncul tanda kiamat besar dengan terbitnya matahari dari arah barat, ketika itu pintu taubat ditutup. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ
“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’ Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. (An-Nisa`: 18)
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ ءَايَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabbmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (Al-An’am: 158)
Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di siang hari dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat jelek di malam hari sehingga matahari terbit dari arah barat.” (Shahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Musa )
Taubat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-Nya ada dua macam:
Pertama:
Bahwa Ia memberikan ilham dan taufiq-Nya untuk bertaubat kepada-Nya serta untuk menelusuri syarat-syarat taubat baik berupa penyesalan (dari perbuatan dosa), istighfar, dan menanggalkan maksiat, bertekad untuk tidak kembali kepada dosanya serta menggantikan dosanya dengan amal shalih.
Kedua:
Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menerima taubat hamba-Nya, menyambutnya, serta menghapuskan dosanya, karena taubat yang murni dan benar-benar itu akan melebur kesalahan-kesalahan sebelumnya.
إِلاَّ مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Furqan: 70)
As-Sa’di rahimahullahu juga menjelaskan dalam tafsirnya: “At-Tawwab adalah yang senantiasa memberikan dan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya serta mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat. Maka semua yang bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang murni dan sungguh-sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taubat kepada hamba-Nya, pertama dengan memberikan taufiq-Nya kepada mereka untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh dengan kalbunya menuju kepadanya, serta menerima taubat mereka setelah mereka melakukannya dan mengampuni kesalahannya.”
Buah Mengimani Nama At-Tawwab
Dengan mengimani nama At-Tawwab kita akan mendapatkan banyak manfaat. Di antaranya, akan tumbuh pada diri kita rasa syukur yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan taufiq dan ilham-Nya kepada seorang hamba sehingga muncul pada dirinya keinginan untuk bertaubat serta mencabut diri dari berbagai macam kesalahan dalam bentuk apapun. Kalaulah bukan karena taufiq-Nya niscaya takkan tumbuh dalam diri ini keinginan untuk bertaubat dan kembali keharibaan-Nya.
Dengan mengimani nama itu pula, kita mengetahui dengan pasti bahwa pintu taubat senantiasa terbuka, sehingga tidak ada kata putus asa untuk bertaubat. Tiada kata ‘telanjur basah’ dalam maksiat. Apapun dan berapapun dosanya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan ampunan kepadanya manakala dia dengan sungguh-sungguh bertaubat. Barangkali kita pernah mendengar sebagian kisah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita yang mulia, tentang bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang yang telah membunuh 100 jiwa, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni pelacur, bahkan yang berbuat kekafiran sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala beri ampunan, ketika mereka bertaubat secara sungguh-sungguh.
Namun yang perlu diperhatikan adalah kesungguh-sungguhan dalam bertaubat dengan memenuhi syarat-syaratnya. Sebagaimana yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Harras di atas; menyesali perbuatan dosanya, mencabut diri darinya, bertekad untuk tidak mengulanginya, mengganti dengan amal shalih, dilakukan sebelum tertutupnya pintu taubat dan bila berkaitan dengan hak orang, mengembalikan hak orang yang kita dzalimi, atau meminta kehalalannya.
Sumber Bacaan:
Tafsir As-Sa’di
Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim karya Al-Harras, 2/101-102
Shifatullah ‘Azza wa Jalla, karya Alwi As-Saqqaf, hal. 77
Syarh Al-Asma`ul Husna, karya Said Al-Qahthani, hal. 109-110
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
At-Jabbar
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jabbar (الْجَبَّارُ).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nama-Nya ini dalam surat Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia-lah Allah Yang tiada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Al-Jabbar, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Dalam hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَكُونُ الْأَرْضُ يوم الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ كَمَا يَكْفَأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ
“Bumi pada hari kiamat akan menjadi satu adonan kue dan dibalikkan oleh Al-Jabbar dengan tangan-Nya sebagaimana seseorang di antara kalian membalikkan adonan kuenya di saat melakukan safar.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, 5/2389, no. 6155 tahqiq Mushthafa Al-Bagha)
Al-Jabbar yakni yang memiliki sifat jabarut. Dalam salah satu doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan sahabat ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَلَمَّا رَكَعَ مَكَثَ قَدْرَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
“Aku berdiri (shalat) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Ketika ruku’ beliau tetap diam seukuran surat Al-Baqarah. Beliau mengatakan dalam ruku’-nya: ‘Maha suci Yang memiliki Jabarut, kerajaan (pengaturan), kesombongan, dan keagungan’.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shifat Shalatin Nabi, hal. 133)
Adapun makna Al-Jabbar secara ringkas seperti yang disampaikan oleh Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu yaitu:
“Yang Maha Tinggi dan Tertinggi, juga bermakna Yang Memaksa, dan bermakna Ar-Ra`uf Yang kasih sayang, Yang memperbaiki kalbu yang redam, memperbaiki yang lemah dan tidak mampu, serta yang berlindung kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 946)
Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan: “Yang memperbaiki urusan makhluk-Nya, Yang mengatur mereka dengan sesuatu yang maslahat bagi mereka.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir, 4/367)
Al-Harras rahimahullahu menyebutkan bahwa Ibnu Atsir rahimahullahu mengatakan: “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Jabbar. Artinya adalah Yang memaksa hamba-hamba sesuai yang Dia maukan, baik berupa perintah atau larangan… Dikatakan pula bahwa maknanya adalah Yang tinggi di atas makhluk-Nya… Di antara ungkapan orang Arab Nakhlah Jabbarah yakni pohon korma yang besar, yang tangan tidak dapat menjangkaunya.”
Ar-Raghib dalam kitabnya Al-Mufradat mengatakan: “Asal maknanya adalah memperbaiki sesuatu disertai semacam paksaan… Adapun apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sifatkan semacam Al-’Aziz Al-Jabbar Al-Mutakabbir, maka dikatakan bahwa Allah dinamai dengan nama itu dari ungkapan jabartu al-faqir artinya aku memperbaiki keadaan orang faqir. Karena Allah, Dialah yang memperbaiki manusia dengan nikmat-Nya yang melimpah. Dikatakan pula, karena Dia memaksa manusia kepada kehendak-Nya.”
Al-Harras rahimahullahu juga mengatakan bahwa Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan tiga makna, yang semuanya masuk dalam makna nama tersebut, di mana dibenarkan masing-masing makna tersebut dimaukan darinya:
Salah satunya bahwa Dialah yang memperbaiki kelemahan hamba-hamba-Nya yang lemah, dan Yang memperbaiki kalbu yang merasa redam di hadapan-Nya, yang tunduk di hadapan kebesaran-Nya dan keagungan-Nya. Betapa banyak kalbu yang redam lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala perbaiki, yang fakir lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kecukupan, yang hina lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan, yang kesusahan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala hilangkan kesusahannya, yang kesulitan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemudahan. Dan betapa banyak orang yang terkena musibah lalu Allah l perbaiki dengan memberinya taufiq untuk kokoh dan sabar, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ganti karena musibahnya dengan pahala yang besar. Maka hakikat makna Jabr adalah memperbaiki keadaan hamba dengan melepaskannya dari kesulitan, serta menghilangkan darinya kesusahan.
Makna (kedua) bahwa Dia Yang Maha memaksa, yang segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya, yang semua makhluk tunduk kepada keagungan-Nya dan keperkasaan-Nya. Maka Dia memaksa hamba-hamba-Nya kepada apa yang Dia kehendaki berupa sesuatu yang sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan kehendak-Nya. Maka mereka tidak dapat lepas darinya.
Makna yang ketiga bahwa Dia yang Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak seorangpun mendekat kepada-Nya.
Al-’Allamah As-Sa’di rahimahullahu menyebutkan makna yang keempat, yaitu bahwa Dia yang Maha Besar tersucikan dari segala kekurangan dan keserupaan dengan siapapun, serta tersucikan dari sesuatu yang menyerupai-Nya, baik dalam kekhususan-kekhususan-Nya maupun hak-hak-Nya. (Syarh Nuniyyah, 2/103-104)
Makna semacam ini juga diriwayatkan dari tafsir Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan bahwa makna Al-Jabbar adalah Yang Maha Agung, dan sifat Jabarut artinya sifat keagungan. Demikian dinukilkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya (18/47).
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jabbar (الْجَبَّارُ).
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nama-Nya ini dalam surat Al-Hasyr ayat 23:
هُوَ اللهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia-lah Allah Yang tiada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Al-Jabbar, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Dalam hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَكُونُ الْأَرْضُ يوم الْقِيَامَةِ خُبْزَةً وَاحِدَةً يَتَكَفَّؤُهَا الْجَبَّارُ بِيَدِهِ كَمَا يَكْفَأُ أَحَدُكُمْ خُبْزَتَهُ فِي السَّفَرِ
“Bumi pada hari kiamat akan menjadi satu adonan kue dan dibalikkan oleh Al-Jabbar dengan tangan-Nya sebagaimana seseorang di antara kalian membalikkan adonan kuenya di saat melakukan safar.” (Shahih, HR. Al-Bukhari, 5/2389, no. 6155 tahqiq Mushthafa Al-Bagha)
Al-Jabbar yakni yang memiliki sifat jabarut. Dalam salah satu doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan sahabat ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَلَمَّا رَكَعَ مَكَثَ قَدْرَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
“Aku berdiri (shalat) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Ketika ruku’ beliau tetap diam seukuran surat Al-Baqarah. Beliau mengatakan dalam ruku’-nya: ‘Maha suci Yang memiliki Jabarut, kerajaan (pengaturan), kesombongan, dan keagungan’.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shifat Shalatin Nabi, hal. 133)
Adapun makna Al-Jabbar secara ringkas seperti yang disampaikan oleh Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu yaitu:
“Yang Maha Tinggi dan Tertinggi, juga bermakna Yang Memaksa, dan bermakna Ar-Ra`uf Yang kasih sayang, Yang memperbaiki kalbu yang redam, memperbaiki yang lemah dan tidak mampu, serta yang berlindung kepada-Nya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 946)
Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan: “Yang memperbaiki urusan makhluk-Nya, Yang mengatur mereka dengan sesuatu yang maslahat bagi mereka.” (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir, 4/367)
Al-Harras rahimahullahu menyebutkan bahwa Ibnu Atsir rahimahullahu mengatakan: “Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Jabbar. Artinya adalah Yang memaksa hamba-hamba sesuai yang Dia maukan, baik berupa perintah atau larangan… Dikatakan pula bahwa maknanya adalah Yang tinggi di atas makhluk-Nya… Di antara ungkapan orang Arab Nakhlah Jabbarah yakni pohon korma yang besar, yang tangan tidak dapat menjangkaunya.”
Ar-Raghib dalam kitabnya Al-Mufradat mengatakan: “Asal maknanya adalah memperbaiki sesuatu disertai semacam paksaan… Adapun apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sifatkan semacam Al-’Aziz Al-Jabbar Al-Mutakabbir, maka dikatakan bahwa Allah dinamai dengan nama itu dari ungkapan jabartu al-faqir artinya aku memperbaiki keadaan orang faqir. Karena Allah, Dialah yang memperbaiki manusia dengan nikmat-Nya yang melimpah. Dikatakan pula, karena Dia memaksa manusia kepada kehendak-Nya.”
Al-Harras rahimahullahu juga mengatakan bahwa Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan tiga makna, yang semuanya masuk dalam makna nama tersebut, di mana dibenarkan masing-masing makna tersebut dimaukan darinya:
Salah satunya bahwa Dialah yang memperbaiki kelemahan hamba-hamba-Nya yang lemah, dan Yang memperbaiki kalbu yang merasa redam di hadapan-Nya, yang tunduk di hadapan kebesaran-Nya dan keagungan-Nya. Betapa banyak kalbu yang redam lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala perbaiki, yang fakir lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kecukupan, yang hina lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan, yang kesusahan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala hilangkan kesusahannya, yang kesulitan lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemudahan. Dan betapa banyak orang yang terkena musibah lalu Allah l perbaiki dengan memberinya taufiq untuk kokoh dan sabar, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ganti karena musibahnya dengan pahala yang besar. Maka hakikat makna Jabr adalah memperbaiki keadaan hamba dengan melepaskannya dari kesulitan, serta menghilangkan darinya kesusahan.
Makna (kedua) bahwa Dia Yang Maha memaksa, yang segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya, yang semua makhluk tunduk kepada keagungan-Nya dan keperkasaan-Nya. Maka Dia memaksa hamba-hamba-Nya kepada apa yang Dia kehendaki berupa sesuatu yang sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya dan kehendak-Nya. Maka mereka tidak dapat lepas darinya.
Makna yang ketiga bahwa Dia yang Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak seorangpun mendekat kepada-Nya.
Al-’Allamah As-Sa’di rahimahullahu menyebutkan makna yang keempat, yaitu bahwa Dia yang Maha Besar tersucikan dari segala kekurangan dan keserupaan dengan siapapun, serta tersucikan dari sesuatu yang menyerupai-Nya, baik dalam kekhususan-kekhususan-Nya maupun hak-hak-Nya. (Syarh Nuniyyah, 2/103-104)
Makna semacam ini juga diriwayatkan dari tafsir Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan bahwa makna Al-Jabbar adalah Yang Maha Agung, dan sifat Jabarut artinya sifat keagungan. Demikian dinukilkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya (18/47).
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Jawwad
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jawwad (الْجَــوَّادُ ) Yang Maha Dermawan.
Nama Allah Subhanahu wa Ta'ala ini tersebut dalam sebuah hadits dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sesungguhnya Allah itu Jawwad (Maha Dermawan) mencintai kedermawanan dan mencintai akhlak yang luhur, serta membenci akhlak yang rendah.” (Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan Asy-Syasyi dalam Musnad-nya, 1/80, Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dalam Hilyatul Auliya. Asy-Asyaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no. 1744)
Dalam hadits yang lain, hadits qudsi:
وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَحَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمُ اجْتَمَعُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ مَا بَلَغَتْ أُمْنِيَّتُهُ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ سَائِلٍ مِنْكُمْ ما سَأَلَ ما نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي إِلاَّ كَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ مَرَّ بِالْبَحْرِ فَغَمَسَ فِيْهِ إِبْرَهُ ثُمَّ رَفَعَهَا إِلَيْهِ، ذَلِكَ بِأَنِّيْ جَوَّادٌ مَاجِدٌ أَفْعَلُ ما أُرِيدُ، عَطَائِي كَلَامٌ وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Dan seandainya yang pertama di antara kalian (hamba-hamba-Ku) hingga yang akhir di antara kalian yang hidup dan yang mati di antara kalian, yang basah maupun yang kering di antara kalian, berkumpul dalam satu hamparan. Lantas setiap orang di antara kalian meminta sesuatu hingga akhir yang dia angan-angankan, lalu Aku beri semuanya apa yang dia minta, maka itu tidak akan mengurangi sebagianpun dari kerajaan-Ku kecuali seperti jika seseorang di antara kalian melewati sebuah lautan lalu mencelupkan jarumnya ke dalamnya lalu mengangkatnya lagi. Hal itu karena Aku adalah Jawwad (Maha Dermawan) Maha Mulia. Aku berbuat semauku, pemberian-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap) dan azab-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap). Sesungguhnya perintah-Ku terhadap sesuatu adalah bila Aku menghendakinya tinggal mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’ maka akan terjadi.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Kitab Shifatul Qiyamah bab 48 no. hadits 2495, lihat takhrijnya dalam kitab Al-Mathlabul Asna min Asma`illahil Husna hal. 50 karya Isham Al-Murri)
Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan:
Dialah Yang Maha Dermawan,
meliputi seluruh alam dengan keutamaan dan kebaikan-Nya
Dialah Yang Maha Dermawan,
tidak akan menelantarkan siapa yang memohon-Nya sekalipun dari umat yang kafir
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullahu menerangkan:
“Al-Jawwad adalah Yang memiliki sifat kedermawanan yang tinggi, yaitu memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak. Kedermawanan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu ada dua macam:
1. Kedermawanan yang mutlak, mencakup seluruh makhluk. Tidak ada sesuatupun dari makhluk melainkan memperolehnya. Semuanya telah Allah Subhanahu wa Ta'ala beri karunia dan kebaikan dari-Nya.
2. Kedermawanan yang khusus untuk mereka yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik mereka meminta secara terus terang dengan ucapan atau dengan kondisi mereka yang mengharapkan kebaikan-Nya, baik yang meminta tersebut seorang mukmin atau seorang kafir, seorang yang baik ataupun yang jahat. Maka barangsiapa yang meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sungguh-sungguh dalam meminta-Nya, benar-benar mengharap karunia-Nya, dengan merasa hina dan butuh di hadapan-Nya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan berikan apa yang ia pinta dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan sampaikan apa yang dia cari. Karena Dia Maha banyak kebaikan-Nya dan Maha Kasih Sayang…” (Syarh Nuniyyah, 2/95-96)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan:
“Al-Jawwad yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Yang Maha Dermawan secara mutlak. Kedermawanan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala penuhi alam dengan keutamaan dan kedermawanan-Nya serta nikmat-Nya yang beraneka ragam. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberikan kedermawanan-Nya yang lebih khusus kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya baik secara langsung dengan kata-kata ataupun (secara tidak langsung) dengan keadaannya. Baik dia seorang yang baik, yang jahat, muslim maupun kafir sekalipun. Maka barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Ia akan memberikan apa yang dia mohon, menyampaikan apa yang dia pinta, karena Ia Maha Pemurah dan Maha Pengasih….” (Taisir Al-Karimirrahman, pada penjelasan surat An-Nahl: 53)
Di antara kedermawanan-Nya yang luas adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sediakan untuk para wali-Nya di negeri kenikmatan. Sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia. Dan Yang Maha Dermawan adalah yang meratakan kedermawanan-Nya kepada seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada pada seorang hambapun dari suatu nikmat melainkan dari-Nya. Dialah yang bila kecelakaan menimpa manusia, kepada-Nyalah mereka kembali, kepada-Nya mereka berdoa. Tidak satu makhlukpun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Akan tetapi hamba-hamba-Nya berbeda dalam memperoleh kedermawanan-Nya, seukuran dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala karuniakan kepada mereka berupa sebab-sebab yang mendatangkan kedermawanan dan kemurahan-Nya. Dan yang terbesarnya adalah berupa kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala secara lahiriah dan amal batin. Juga amal berupa ucapan, perbuatan, dan amal dengan harta benda, serta untuk mewujudkannya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berbuat atau diam. (Tafsir Asma`illah Al-Husna)
Buah Mengimani Nama Allah Al-Jawwad
Di antara buahnya adalah mengetahui keluasan karunia-Nya di dunia ini, di mana tidak ada sesuatupun yang tidak mendapatkan bagian dari karunia-Nya. Dengan mengimaninya kita mengetahui kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya dan memuji-Nya.
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma`ul Husna adalah Al-Jawwad (الْجَــوَّادُ ) Yang Maha Dermawan.
Nama Allah Subhanahu wa Ta'ala ini tersebut dalam sebuah hadits dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sesungguhnya Allah itu Jawwad (Maha Dermawan) mencintai kedermawanan dan mencintai akhlak yang luhur, serta membenci akhlak yang rendah.” (Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan Asy-Syasyi dalam Musnad-nya, 1/80, Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dalam Hilyatul Auliya. Asy-Asyaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no. 1744)
Dalam hadits yang lain, hadits qudsi:
وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَحَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمُ اجْتَمَعُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ مَا بَلَغَتْ أُمْنِيَّتُهُ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ سَائِلٍ مِنْكُمْ ما سَأَلَ ما نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي إِلاَّ كَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ مَرَّ بِالْبَحْرِ فَغَمَسَ فِيْهِ إِبْرَهُ ثُمَّ رَفَعَهَا إِلَيْهِ، ذَلِكَ بِأَنِّيْ جَوَّادٌ مَاجِدٌ أَفْعَلُ ما أُرِيدُ، عَطَائِي كَلَامٌ وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Dan seandainya yang pertama di antara kalian (hamba-hamba-Ku) hingga yang akhir di antara kalian yang hidup dan yang mati di antara kalian, yang basah maupun yang kering di antara kalian, berkumpul dalam satu hamparan. Lantas setiap orang di antara kalian meminta sesuatu hingga akhir yang dia angan-angankan, lalu Aku beri semuanya apa yang dia minta, maka itu tidak akan mengurangi sebagianpun dari kerajaan-Ku kecuali seperti jika seseorang di antara kalian melewati sebuah lautan lalu mencelupkan jarumnya ke dalamnya lalu mengangkatnya lagi. Hal itu karena Aku adalah Jawwad (Maha Dermawan) Maha Mulia. Aku berbuat semauku, pemberian-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap) dan azab-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap). Sesungguhnya perintah-Ku terhadap sesuatu adalah bila Aku menghendakinya tinggal mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’ maka akan terjadi.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Kitab Shifatul Qiyamah bab 48 no. hadits 2495, lihat takhrijnya dalam kitab Al-Mathlabul Asna min Asma`illahil Husna hal. 50 karya Isham Al-Murri)
Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan:
Dialah Yang Maha Dermawan,
meliputi seluruh alam dengan keutamaan dan kebaikan-Nya
Dialah Yang Maha Dermawan,
tidak akan menelantarkan siapa yang memohon-Nya sekalipun dari umat yang kafir
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullahu menerangkan:
“Al-Jawwad adalah Yang memiliki sifat kedermawanan yang tinggi, yaitu memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak. Kedermawanan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu ada dua macam:
1. Kedermawanan yang mutlak, mencakup seluruh makhluk. Tidak ada sesuatupun dari makhluk melainkan memperolehnya. Semuanya telah Allah Subhanahu wa Ta'ala beri karunia dan kebaikan dari-Nya.
2. Kedermawanan yang khusus untuk mereka yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik mereka meminta secara terus terang dengan ucapan atau dengan kondisi mereka yang mengharapkan kebaikan-Nya, baik yang meminta tersebut seorang mukmin atau seorang kafir, seorang yang baik ataupun yang jahat. Maka barangsiapa yang meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sungguh-sungguh dalam meminta-Nya, benar-benar mengharap karunia-Nya, dengan merasa hina dan butuh di hadapan-Nya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan berikan apa yang ia pinta dan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan sampaikan apa yang dia cari. Karena Dia Maha banyak kebaikan-Nya dan Maha Kasih Sayang…” (Syarh Nuniyyah, 2/95-96)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menjelaskan:
“Al-Jawwad yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Yang Maha Dermawan secara mutlak. Kedermawanan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala penuhi alam dengan keutamaan dan kedermawanan-Nya serta nikmat-Nya yang beraneka ragam. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberikan kedermawanan-Nya yang lebih khusus kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya baik secara langsung dengan kata-kata ataupun (secara tidak langsung) dengan keadaannya. Baik dia seorang yang baik, yang jahat, muslim maupun kafir sekalipun. Maka barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Ia akan memberikan apa yang dia mohon, menyampaikan apa yang dia pinta, karena Ia Maha Pemurah dan Maha Pengasih….” (Taisir Al-Karimirrahman, pada penjelasan surat An-Nahl: 53)
Di antara kedermawanan-Nya yang luas adalah apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sediakan untuk para wali-Nya di negeri kenikmatan. Sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia. Dan Yang Maha Dermawan adalah yang meratakan kedermawanan-Nya kepada seluruh penduduk langit dan bumi. Tidak ada pada seorang hambapun dari suatu nikmat melainkan dari-Nya. Dialah yang bila kecelakaan menimpa manusia, kepada-Nyalah mereka kembali, kepada-Nya mereka berdoa. Tidak satu makhlukpun lepas dari kebaikan-Nya walau sekejap mata. Akan tetapi hamba-hamba-Nya berbeda dalam memperoleh kedermawanan-Nya, seukuran dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala karuniakan kepada mereka berupa sebab-sebab yang mendatangkan kedermawanan dan kemurahan-Nya. Dan yang terbesarnya adalah berupa kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala secara lahiriah dan amal batin. Juga amal berupa ucapan, perbuatan, dan amal dengan harta benda, serta untuk mewujudkannya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berbuat atau diam. (Tafsir Asma`illah Al-Husna)
Buah Mengimani Nama Allah Al-Jawwad
Di antara buahnya adalah mengetahui keluasan karunia-Nya di dunia ini, di mana tidak ada sesuatupun yang tidak mendapatkan bagian dari karunia-Nya. Dengan mengimaninya kita mengetahui kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya dan memuji-Nya.
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Hakim
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Asma’ul Husna adalah الْحَكِيمُ (Al-Hakim). Artinya, Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (Al-Ma’idah: 50)
Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia dan tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.
Artinya juga adalah Yang memiliki hukum di dunia dan akhirat. Milik-Nyalah tiga macam hukum yang tidak seorangpun menyertai-Nya. Dialah yang menghukumi di antara hamba-Nya, dalam (1) syariat-Nya, (2) taqdir-Nya, dan (3) pembalasan-Nya. Hikmah artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. (Tafsir As-Sa'di, hal. 947)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
“Bukankah Allah adalah hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Yusuf: 80)
Dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, dia berkata:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلَامًا أَقُولُهُ. قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. قَالَ: فَهَؤُلَاءِ لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: قُلْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
“Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Ajarkan kepadaku sebuah ucapan yang aku bisa mengamalkannya.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Ucapkanlah:
لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
‘Tiada ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, Maha Suci Allah Rabb sekalian alam, tiada daya untuk memindah dari suatu keadaan kepada keadaan lain serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Memiliki Hikmah.’ Maka Arab badui tadi mengatakan: ‘Ucapan-ucapan itu untuk Rabb-ku. Lantas apa yang untukku?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
‘Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, berikan petunjuk kepadaku dan berikan rizki kepadaku’.” (Shahih, HR. Muslim, 4/2074)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua macam:
Pertama, hikmah dalam penciptaan-Nya.
Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-Nya dengan benar dan mengandung kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk seluruhnya dengan sebaik-baik aturan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengaturnya dengan aturan yang paling sempurna. Kepada setiap makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pula postur yang sesuai dengannya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan bentuk masing-masing kepada setiap bagian dari bagian-bagian makhluk dan setiap anggota tubuh dari makhluk itu. Sehingga setiap orang tidak akan melihat pada ciptaan-Nya ada kekurangan atau cacat.
Seandainya seluruh makhluk dari awal hingga akhir bersatu padu untuk mengusulkan suatu bentuk penciptaan seperti ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau yang mendekati ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada makhluk-Nya berupa keindahan dan keteraturan, maka mereka tidak akan mampu. Darimana mereka akan mampu melakukannya, meski sedikit saja?
Cukuplah bagi para ahli hikmah atau para cendekiawan untuk mengetahui banyak hal dari hikmah-hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melihat sebagian keindahan dan ketelitian yang ada padanya. Ini merupakan suatu hal yang sangat diketahui secara pasti, berdasarkan apa yang diketahui dari keagungan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Juga dengan menelusuri hikmah-hikmah-Nya dalam penciptaan dan perintah-perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menantang hamba-hamba-Nya untuk memerhatikan serta berulangkali melihat dan memerhatikan lagi: Apakah mereka mendapati pada makhluk-Nya ada kekurangan dan cacat, dan bahwa pandangan mereka tentu akan kembali dalam keadaan lemah untuk mengkritik sedikit saja dari makhluk-Nya.
Kedua, hikmah dalam syariat dan perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan syariat-syariat dan menurunkan kitab-kitab, mengutus para rasul agar mereka memperkenalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dan agar hamba-hamba beribadah kepada-Nya. Hikmah mana lagi yang lebih agung darinya? Dan keutamaan serta kemuliaan apa yang lebih besar darinya? Sesungguhnya mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beribadah kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya serta mengikhlaskan amal kepada-Nya, memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, menyanjung-Nya, itu merupakan karunia-Nya yang terbesar kepada hamba-hamba-Nya secara mutlak. Keutamaan yang terbesar bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri karunia kepadanya dan kebahagiaan yang sempurna bagi qalbu dan arwah. Sebagaimana hal itu juga merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal. Kalaulah tidak ada dalam syariat-Nya dan perintah-Nya kecuali hikmah yang agung ini –yang mana hal itu merupakan asal usul segala kebaikan dan kenikmatan yang paling sempurna, karenanyalah diciptakan makhluk dan (karenanya) berhak mendapatkan pembalasan, (bahkan karenanya juga) diciptakan al-jannah (surga) dan an-nar (neraka)– maka itu sudah cukup.
Demikianlah. Padahal syariat dan agama-Nya mencakup segala kebaikan. Berita-berita-Nya memenuhi qalbu dengan ilmu, yakin, dan iman. Dengan itulah qalbu menjadi istiqamah dan selamat dari penyelewengan. Juga membuahkan segala akhlak yang indah, amal shalih, petunjuk, dan bimbingan. Perintah-perintah dan larangan-Nya mencakup hikmah, maslahat dan perbaikan tertinggi di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memerintahkan kecuali sesuatu yang maslahatnya murni (tidak mengandung mafsadah) atau lebih besar (dari mafsadahnya). Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kecuali sesuatu yang mafsadah (kerusakan)nya murni atau lebih besar (dari maslahatnya).
Di antara hikmah syariat Islam di samping itu adalah sebagai maslahat terbesar bagi qalbu, akhlak, dan amal serta istiqamah dalam jalan yang lurus, hal itu juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Sehingga urusan dunia tidak akan menjadi baik dengan kebaikan yang hakiki, kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini perkara yang bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Karena sesungguhnya umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menegakkan agama ini, baik pokok maupun cabangnya, juga seluruh petunjuk dan bimbingannya, maka keadaan mereka akan sangat baik dan mapan. Tapi tatkala mereka melenceng darinya, banyak meninggalkan petunjuknya, serta tidak mengambil bimbingannya yang luhur, maka urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.
Demikian pula lihatlah umat-umat lain yang kekuatan, kemajuan dan peradabannya telah mencapai tingkat tinggi. Namun ketika kosong dari roh agama, rahmat dan keadilannya, maka mudaratnya lebih besar dari manfaatnya. Kejelekannya lebih besar dari kebaikannya. Ilmuwan serta politikus tidak mampu untuk menghalau kejahatan yang muncul. Bahkan sekali-kali mereka tidak akan mampu, selama mereka tetap dalam keadaan semacam itu.
Oleh karenanya, di antara hikmah-Nya, bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa agama dan Al-Qur’an adalah bukti terbesar atas kebenaran (kenabian)nya dan kebenaran apa yang dibawanya, karena (syariatnya) tertata dan sempurna. Sehingga sebuah kebaikan tidak akan menjadi baik kecuali dengannya. (Dinukil dari Syarh Al-Qashidah An-Nuniyah karya Muhammad Khalil Harras: 2/84-86)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras juga menyebutkan makna lain, yaitu:
“Al-Hakiim bermakna Al-Haakim, yang berarti Yang memiliki hukum yakni yang menetapkan sesuatu bahwa ini harus demikian atau tidak demikian. Atau bermakna Al-Muhkim, yakni Yang mengokohkan sesuatu.” (Syarh Al-Qashidah An-Nuniyah karya Muhammad Khalil Harras, 2/81)
Buah Mengimani Nama Al-Hakim
Di antara buah mengimani nama ini adalah bahwa kita harus mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang memberikan hidayah kepada kita untuk menjalankan agama ini. Karena ternyata seluruh ajarannya penuh dengan hikmah. Juga kita harus bersyukur dan sabar terhadap semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena semua ketentuannya juga penuh dengan hikmah. Sebagaimana juga membuahkan ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena kita semua berada di bawah hukum-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Asma’ul Husna adalah الْحَكِيمُ (Al-Hakim). Artinya, Yang memiliki hikmah yang tinggi dalam penciptaan-Nya dan perintah-perintah-Nya, Yang memperbagus seluruh makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (Al-Ma’idah: 50)
Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia dan tidak akan mensyariatkan sesuatu yang tiada manfaatnya.
Artinya juga adalah Yang memiliki hukum di dunia dan akhirat. Milik-Nyalah tiga macam hukum yang tidak seorangpun menyertai-Nya. Dialah yang menghukumi di antara hamba-Nya, dalam (1) syariat-Nya, (2) taqdir-Nya, dan (3) pembalasan-Nya. Hikmah artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. (Tafsir As-Sa'di, hal. 947)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
“Bukankah Allah adalah hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ
“Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Yusuf: 80)
Dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, dia berkata:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلَامًا أَقُولُهُ. قَالَ: قُلْ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. قَالَ: فَهَؤُلَاءِ لِرَبِّي، فَمَا لِي؟ قَالَ: قُلْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
“Seorang Arab badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Ajarkan kepadaku sebuah ucapan yang aku bisa mengamalkannya.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Ucapkanlah:
لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
‘Tiada ilah yang benar kecuali Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, Maha Suci Allah Rabb sekalian alam, tiada daya untuk memindah dari suatu keadaan kepada keadaan lain serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Memiliki Hikmah.’ Maka Arab badui tadi mengatakan: ‘Ucapan-ucapan itu untuk Rabb-ku. Lantas apa yang untukku?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: ‘Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي
‘Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku, berikan petunjuk kepadaku dan berikan rizki kepadaku’.” (Shahih, HR. Muslim, 4/2074)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua macam:
Pertama, hikmah dalam penciptaan-Nya.
Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk-Nya dengan benar dan mengandung kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk seluruhnya dengan sebaik-baik aturan. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengaturnya dengan aturan yang paling sempurna. Kepada setiap makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan pula postur yang sesuai dengannya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan bentuk masing-masing kepada setiap bagian dari bagian-bagian makhluk dan setiap anggota tubuh dari makhluk itu. Sehingga setiap orang tidak akan melihat pada ciptaan-Nya ada kekurangan atau cacat.
Seandainya seluruh makhluk dari awal hingga akhir bersatu padu untuk mengusulkan suatu bentuk penciptaan seperti ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala atau yang mendekati ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada makhluk-Nya berupa keindahan dan keteraturan, maka mereka tidak akan mampu. Darimana mereka akan mampu melakukannya, meski sedikit saja?
Cukuplah bagi para ahli hikmah atau para cendekiawan untuk mengetahui banyak hal dari hikmah-hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melihat sebagian keindahan dan ketelitian yang ada padanya. Ini merupakan suatu hal yang sangat diketahui secara pasti, berdasarkan apa yang diketahui dari keagungan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Juga dengan menelusuri hikmah-hikmah-Nya dalam penciptaan dan perintah-perintah-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah menantang hamba-hamba-Nya untuk memerhatikan serta berulangkali melihat dan memerhatikan lagi: Apakah mereka mendapati pada makhluk-Nya ada kekurangan dan cacat, dan bahwa pandangan mereka tentu akan kembali dalam keadaan lemah untuk mengkritik sedikit saja dari makhluk-Nya.
Kedua, hikmah dalam syariat dan perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meletakkan syariat-syariat dan menurunkan kitab-kitab, mengutus para rasul agar mereka memperkenalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dan agar hamba-hamba beribadah kepada-Nya. Hikmah mana lagi yang lebih agung darinya? Dan keutamaan serta kemuliaan apa yang lebih besar darinya? Sesungguhnya mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beribadah kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya serta mengikhlaskan amal kepada-Nya, memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, menyanjung-Nya, itu merupakan karunia-Nya yang terbesar kepada hamba-hamba-Nya secara mutlak. Keutamaan yang terbesar bagi orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beri karunia kepadanya dan kebahagiaan yang sempurna bagi qalbu dan arwah. Sebagaimana hal itu juga merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal. Kalaulah tidak ada dalam syariat-Nya dan perintah-Nya kecuali hikmah yang agung ini –yang mana hal itu merupakan asal usul segala kebaikan dan kenikmatan yang paling sempurna, karenanyalah diciptakan makhluk dan (karenanya) berhak mendapatkan pembalasan, (bahkan karenanya juga) diciptakan al-jannah (surga) dan an-nar (neraka)– maka itu sudah cukup.
Demikianlah. Padahal syariat dan agama-Nya mencakup segala kebaikan. Berita-berita-Nya memenuhi qalbu dengan ilmu, yakin, dan iman. Dengan itulah qalbu menjadi istiqamah dan selamat dari penyelewengan. Juga membuahkan segala akhlak yang indah, amal shalih, petunjuk, dan bimbingan. Perintah-perintah dan larangan-Nya mencakup hikmah, maslahat dan perbaikan tertinggi di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memerintahkan kecuali sesuatu yang maslahatnya murni (tidak mengandung mafsadah) atau lebih besar (dari mafsadahnya). Dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kecuali sesuatu yang mafsadah (kerusakan)nya murni atau lebih besar (dari maslahatnya).
Di antara hikmah syariat Islam di samping itu adalah sebagai maslahat terbesar bagi qalbu, akhlak, dan amal serta istiqamah dalam jalan yang lurus, hal itu juga maslahat terbesar bagi (urusan) dunia. Sehingga urusan dunia tidak akan menjadi baik dengan kebaikan yang hakiki, kecuali dengan agama yang haq, yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini perkara yang bisa dirasakan dan disaksikan oleh setiap orang yang berakal. Karena sesungguhnya umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menegakkan agama ini, baik pokok maupun cabangnya, juga seluruh petunjuk dan bimbingannya, maka keadaan mereka akan sangat baik dan mapan. Tapi tatkala mereka melenceng darinya, banyak meninggalkan petunjuknya, serta tidak mengambil bimbingannya yang luhur, maka urusan dunia mereka kacau sebagaimana kacaunya agama mereka.
Demikian pula lihatlah umat-umat lain yang kekuatan, kemajuan dan peradabannya telah mencapai tingkat tinggi. Namun ketika kosong dari roh agama, rahmat dan keadilannya, maka mudaratnya lebih besar dari manfaatnya. Kejelekannya lebih besar dari kebaikannya. Ilmuwan serta politikus tidak mampu untuk menghalau kejahatan yang muncul. Bahkan sekali-kali mereka tidak akan mampu, selama mereka tetap dalam keadaan semacam itu.
Oleh karenanya, di antara hikmah-Nya, bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa agama dan Al-Qur’an adalah bukti terbesar atas kebenaran (kenabian)nya dan kebenaran apa yang dibawanya, karena (syariatnya) tertata dan sempurna. Sehingga sebuah kebaikan tidak akan menjadi baik kecuali dengannya. (Dinukil dari Syarh Al-Qashidah An-Nuniyah karya Muhammad Khalil Harras: 2/84-86)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras juga menyebutkan makna lain, yaitu:
“Al-Hakiim bermakna Al-Haakim, yang berarti Yang memiliki hukum yakni yang menetapkan sesuatu bahwa ini harus demikian atau tidak demikian. Atau bermakna Al-Muhkim, yakni Yang mengokohkan sesuatu.” (Syarh Al-Qashidah An-Nuniyah karya Muhammad Khalil Harras, 2/81)
Buah Mengimani Nama Al-Hakim
Di antara buah mengimani nama ini adalah bahwa kita harus mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang memberikan hidayah kepada kita untuk menjalankan agama ini. Karena ternyata seluruh ajarannya penuh dengan hikmah. Juga kita harus bersyukur dan sabar terhadap semua ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena semua ketentuannya juga penuh dengan hikmah. Sebagaimana juga membuahkan ketundukan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena kita semua berada di bawah hukum-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Halim
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma’ul Husna (nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Bagus) adalah Al-Halim (الْحَلِيمُ).
Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263)
إِنَّ اللهَ يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)
Diriwayatkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ نَبِىَّ اللهِ n كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيم،ُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Nabiyyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu di saat ada bencana mengucapkan (yang artinya): “Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah yang Maha Agung dan Yang Maha Penyantun, tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb sekalian langit-langit dan Rabb bumi serta Rabb Arsy yang mulia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Faris rahimahullahu menjelaskan bahwa huruf ha’ (ح), lam (ل), dan mim (م) punya tiga makna dasar. Yang pertama adalah bermakna tidak terburu-buru... Lawan dari kata thaisy (طَيْشٌ) yang berarti ringan tangan atau mudah berbuat. (Mu’jam Maqayis Al-Lughah)
Sehingga sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu bahwa nama Al-Halim (الْحَلِيمُ) adalah yang memiliki sifat penyantun yang sempurna, yang sifat santun-Nya mencakup juga orang-orang kafir dan fasiq serta ahli maksiat. Dia menahan hukuman-Nya untuk segera ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat zalim, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka tempo agar mereka bertaubat. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lalai bila mereka tetap berbuat dosa dan terus-menerus dalam sikap melampaui batas serta tidak kembali.
Al-Halim (الْحَلِيمُ) juga bermakna Yang terus memberikan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat lahir maupun batin walaupun mereka berbuat maksiat dan banyak kesalahan. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak segera membalas orang-orang yang bermaksiat karena kemaksiatan mereka, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka waktu agar mereka bertaubat dan kembali. (Syarh Al-Asma’ul Husna)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras mengatakan: “Al-Halim (الْحَلِيمُ) adalah yang memiliki sifat penyantun yang sempurna, yang mencakup orang kafir, munafik, dan ahli maksiat. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka tempo dan tidak segera menghukum mereka, dengan harapan mereka akan bertaubat. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan segera menghukum mereka dengan sebab dosa-dosa mereka selepas dilakukan oleh mereka. Karena, dosa-dosa itu mengharuskan adanya akibat berupa hukuman yang segera dan bermacam-macam. Akan tetapi kesantunan Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah yang membuat-Nya memberikan tangguh kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi satu mahluk melata pun. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ajal mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45) [Syarh Nuniyyah, 2/87]
Buah Mengimani Nama Allah Al-Halim
Di antara buah mengimani nama Allah Al-Halim adalah kita mengetahui betapa besar kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karunia-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Betapa besar pula kasih sayang-Nya, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempo kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Dalam tempo itu pun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap berikan karunia-Nya kepada mereka. Tentu hal ini menuntut kita untuk tahu diri dan banyak mensyukuri nikmat-Nya. Kalaulah bukan karena sifat penyantun-Nya niscaya kita telah binasa dihukum-Nya. Tidakkah ini disadari oleh kita semua dan semua yang jatuh dalam maksiat atau kekafiran sehingga segera bertaubat sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala jatuhkan tempo sehingga hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan? Kepada-Nyalah kita kembali...
Dinukil dari www.asysyariah.com
Salah satu Al-Asma’ul Husna (nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Bagus) adalah Al-Halim (الْحَلِيمُ).
Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 263)
إِنَّ اللهَ يُمْسِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)
Diriwayatkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ نَبِىَّ اللهِ n كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيم،ُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Nabiyyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu di saat ada bencana mengucapkan (yang artinya): “Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah yang Maha Agung dan Yang Maha Penyantun, tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar kecuali Allah Rabb sekalian langit-langit dan Rabb bumi serta Rabb Arsy yang mulia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Faris rahimahullahu menjelaskan bahwa huruf ha’ (ح), lam (ل), dan mim (م) punya tiga makna dasar. Yang pertama adalah bermakna tidak terburu-buru... Lawan dari kata thaisy (طَيْشٌ) yang berarti ringan tangan atau mudah berbuat. (Mu’jam Maqayis Al-Lughah)
Sehingga sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu bahwa nama Al-Halim (الْحَلِيمُ) adalah yang memiliki sifat penyantun yang sempurna, yang sifat santun-Nya mencakup juga orang-orang kafir dan fasiq serta ahli maksiat. Dia menahan hukuman-Nya untuk segera ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat zalim, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka tempo agar mereka bertaubat. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lalai bila mereka tetap berbuat dosa dan terus-menerus dalam sikap melampaui batas serta tidak kembali.
Al-Halim (الْحَلِيمُ) juga bermakna Yang terus memberikan kepada makhluk-Nya nikmat-nikmat lahir maupun batin walaupun mereka berbuat maksiat dan banyak kesalahan. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak segera membalas orang-orang yang bermaksiat karena kemaksiatan mereka, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka waktu agar mereka bertaubat dan kembali. (Syarh Al-Asma’ul Husna)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras mengatakan: “Al-Halim (الْحَلِيمُ) adalah yang memiliki sifat penyantun yang sempurna, yang mencakup orang kafir, munafik, dan ahli maksiat. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka tempo dan tidak segera menghukum mereka, dengan harapan mereka akan bertaubat. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan segera menghukum mereka dengan sebab dosa-dosa mereka selepas dilakukan oleh mereka. Karena, dosa-dosa itu mengharuskan adanya akibat berupa hukuman yang segera dan bermacam-macam. Akan tetapi kesantunan Allah Subhanahu wa Ta’ala itulah yang membuat-Nya memberikan tangguh kepada mereka. Sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi satu mahluk melata pun. Akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ajal mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45) [Syarh Nuniyyah, 2/87]
Buah Mengimani Nama Allah Al-Halim
Di antara buah mengimani nama Allah Al-Halim adalah kita mengetahui betapa besar kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karunia-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Betapa besar pula kasih sayang-Nya, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tempo kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat. Dalam tempo itu pun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap berikan karunia-Nya kepada mereka. Tentu hal ini menuntut kita untuk tahu diri dan banyak mensyukuri nikmat-Nya. Kalaulah bukan karena sifat penyantun-Nya niscaya kita telah binasa dihukum-Nya. Tidakkah ini disadari oleh kita semua dan semua yang jatuh dalam maksiat atau kekafiran sehingga segera bertaubat sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala jatuhkan tempo sehingga hukuman Allah Subhanahu wa Ta’ala timpakan? Kepada-Nyalah kita kembali...
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Hamiid
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Dinukil dari www.asyyariah.com
Salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hamiid (الْحَمِيدُ), yakni Yang Maha terpuji.
Nama ini tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.” (Al-Baqarah: 267)
يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (Fathir: 15)
Dalam hadits dari Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullahu, dia berkata:
لَقِيَنِى كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ: أَلاَ أُهْدِى لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟ فَقُلْتُ: بَلَى، فَأَهْدِهَا لِى. فَقَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلِ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ؟ قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ka’b bin Ujrah telah berjumpa denganku, lalu beliau mengatakan: “Tidakkah aku beri kamu hadiah yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka aku katakan: “Ya, berikan hadiah itu kepadaku.” Maka beliau mengatakan: “Kami telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah bershalawat kepada kalian keluarga Nabi? Sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana memberikan salam (kepada kalian).’ Maka Nabi berkata: ‘Bacalah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ya Allah, berikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kata Al-Hamiid berasal dari akar kata ha-mi-da (حَمِدَ), terdiri dari huruf ح-م-د yang artinya adalah lawan dari celaan (yaitu pujian). Seseorang disebut mahmud (مَحْمُودٌ) atau Muhammad (مُحَمَّدٌ) bila terdapat pada dirinya banyak sifat kebaikan, bukan sifat yang tercela. (Mu’jam Maqayis Al-Lughah)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras mengatakan: “Al-Hamdu (الْحَمْدُ) artinya pujian dengan lisan atas suatu kebaikan yang adanya bukan karena keterpaksaan, baik itu berupa jasa atau bukan….”
Kata Al-Hamiid (الحَمِيْد) adalah salah satu dari Al-Asma’ul Husna. Kata ini sesuai dengan wazan (bentuk susunan) fa‘il (فَعِيلٌ) (sebagai pelaku) namun bermakna maf’ul (مَفْعُولٌ) (sebagai obyek). Sehingga maknanya adalah (Yang terpuji) yang berhak atas segala pujian yang telah terjadi ataupun yang diperkirakan akan terjadi. Maka, seluruh bagian dari pujian yang terwujud atau yang ditakdirkan nanti akan terwujud, semua itu tetap bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak terhadapnya, dengan sebab sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan yang Dia miliki. Oleh karena itu, pendapat yang kuat bahwa alif dan lam dalam kata Al-Hamid itu berfungsi untuk istighraq (mencakup) seluruh bagian pujian.
Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa (الْحَمِيدُ) juga bermakna faa’il (pelaku pujian) yakni Dia memuji hamba-hamba-Nya dan para wali-Nya yang menegakkan perintah-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan bahwa Al-Hamiid memiliki dua makna:
Pertama:
Seluruh makhluk mengucapkan pujian terhadap-Nya, maka segala pujian yang terwujud dari seluruh penduduk langit-langit dan bumi, yang awal maupun yang akhir dari mereka, serta semua pujian yang terjadi dari mereka di dunia dan akhirat, juga semua pujian yang belum terwujud dari mereka bahkan yang masih dalam pengandaian, demikian pula yang tersembunyi, selama berlangsungnya zaman dan berjalannya waktu; dengan pujian yang memenuhi alam-alam seluruhnya baik yang atas maupun bawah dan memenuhi yang semacam alam itu tanpa hitungan, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak terhadapnya dari banyak sisi. Yaitu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan mereka, memberi mereka rezeki, dan melimpahkan nikmat lahir maupun batin kepada mereka, terkait urusan keduniaan ataupun urusan agama. Juga karena Allah l telah memalingkan mereka dari bencana ataupun hal-hal yang tidak disukai. Apapun nikmat yang ada pada hamba-hamba maka itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah ada yang menghalangi dari kejelekan dan kejahatan melainkan Dia. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai hak agar mereka memuji-Nya dalam segala waktu, menyanjung-Nya, dan mensyukuri-Nya sebanyak saat-saat yang berjalan.
Kedua:
Allah Subhanahu wa Ta’ala terpuji karena apa yang Dia miliki berupa Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna nan tinggi, segala hal yang terpuji serta sifat yang indah dan agung. Milik-Nyalah seluruh sifat kesempurnaan. Sifat-sifat yang Ia miliki berada pada puncak kesempurnaan dan kebesaran. Sehingga dalam setiap sifat dari sifat-sifat-Nya, Ia berhak dipuji dengan pujian yang sempurna dan sanjungan yang sempurna. Lantas bagaimana dengan seluruh sifat-Nya yang suci? Milik-Nyalah segala pujian karena Dzat-Nya, milik-Nyalah segala pujian karena sifat-sifat-Nya, dan milik-Nyalah segala pujian karena perbuatan-perbuatan-Nya yang berkisar antara karunia dan kebaikan, serta antara keadilan dan hikmah yang dengannya Dia berhak mendapatkan pujian yang sempurna. Milik-Nyalah pula segala pujian karena penciptaan-Nya, karena syariat-Nya, karena hukum-hukum takdir-Nya atau hukum syariat-Nya, serta hukum pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat. Perincian pujian-Nya dan apa yang Dia dipuji karenanya tidaklah bisa dijangkau oleh pikiran dan tidak bisa dihitung oleh pena.”
Buah Mengimani Nama Allah Al-Hamid
Di antara buah mengimaninya adalah kita mengetahui kemuliaan sifat-sifat Allah l dan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya, di mana semua sifat dan perbuatan-Nya berhak untuk dipuji. Sehingga pantaslah kalau segala puji itu milik-Nya. Maka hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada-Nya atas segala ketetapan-Nya. Wallahu a’lam.
Dinukil dari www.asyyariah.com
Salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hamiid (الْحَمِيدُ), yakni Yang Maha terpuji.
Nama ini tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha terpuji.” (Al-Baqarah: 267)
يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (Fathir: 15)
Dalam hadits dari Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullahu, dia berkata:
لَقِيَنِى كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ: أَلاَ أُهْدِى لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟ فَقُلْتُ: بَلَى، فَأَهْدِهَا لِى. فَقَالَ: سَأَلْنَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ الصَّلاَةُ عَلَيْكُمْ أَهْلِ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ؟ قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ka’b bin Ujrah telah berjumpa denganku, lalu beliau mengatakan: “Tidakkah aku beri kamu hadiah yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Maka aku katakan: “Ya, berikan hadiah itu kepadaku.” Maka beliau mengatakan: “Kami telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah bershalawat kepada kalian keluarga Nabi? Sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana memberikan salam (kepada kalian).’ Maka Nabi berkata: ‘Bacalah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Ya Allah, berikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana engkau berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha Agung’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kata Al-Hamiid berasal dari akar kata ha-mi-da (حَمِدَ), terdiri dari huruf ح-م-د yang artinya adalah lawan dari celaan (yaitu pujian). Seseorang disebut mahmud (مَحْمُودٌ) atau Muhammad (مُحَمَّدٌ) bila terdapat pada dirinya banyak sifat kebaikan, bukan sifat yang tercela. (Mu’jam Maqayis Al-Lughah)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras mengatakan: “Al-Hamdu (الْحَمْدُ) artinya pujian dengan lisan atas suatu kebaikan yang adanya bukan karena keterpaksaan, baik itu berupa jasa atau bukan….”
Kata Al-Hamiid (الحَمِيْد) adalah salah satu dari Al-Asma’ul Husna. Kata ini sesuai dengan wazan (bentuk susunan) fa‘il (فَعِيلٌ) (sebagai pelaku) namun bermakna maf’ul (مَفْعُولٌ) (sebagai obyek). Sehingga maknanya adalah (Yang terpuji) yang berhak atas segala pujian yang telah terjadi ataupun yang diperkirakan akan terjadi. Maka, seluruh bagian dari pujian yang terwujud atau yang ditakdirkan nanti akan terwujud, semua itu tetap bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak terhadapnya, dengan sebab sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan yang Dia miliki. Oleh karena itu, pendapat yang kuat bahwa alif dan lam dalam kata Al-Hamid itu berfungsi untuk istighraq (mencakup) seluruh bagian pujian.
Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa (الْحَمِيدُ) juga bermakna faa’il (pelaku pujian) yakni Dia memuji hamba-hamba-Nya dan para wali-Nya yang menegakkan perintah-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan bahwa Al-Hamiid memiliki dua makna:
Pertama:
Seluruh makhluk mengucapkan pujian terhadap-Nya, maka segala pujian yang terwujud dari seluruh penduduk langit-langit dan bumi, yang awal maupun yang akhir dari mereka, serta semua pujian yang terjadi dari mereka di dunia dan akhirat, juga semua pujian yang belum terwujud dari mereka bahkan yang masih dalam pengandaian, demikian pula yang tersembunyi, selama berlangsungnya zaman dan berjalannya waktu; dengan pujian yang memenuhi alam-alam seluruhnya baik yang atas maupun bawah dan memenuhi yang semacam alam itu tanpa hitungan, maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berhak terhadapnya dari banyak sisi. Yaitu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan mereka, memberi mereka rezeki, dan melimpahkan nikmat lahir maupun batin kepada mereka, terkait urusan keduniaan ataupun urusan agama. Juga karena Allah l telah memalingkan mereka dari bencana ataupun hal-hal yang tidak disukai. Apapun nikmat yang ada pada hamba-hamba maka itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah ada yang menghalangi dari kejelekan dan kejahatan melainkan Dia. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai hak agar mereka memuji-Nya dalam segala waktu, menyanjung-Nya, dan mensyukuri-Nya sebanyak saat-saat yang berjalan.
Kedua:
Allah Subhanahu wa Ta’ala terpuji karena apa yang Dia miliki berupa Al-Asma’ul Husna dan sifat-sifat yang sempurna nan tinggi, segala hal yang terpuji serta sifat yang indah dan agung. Milik-Nyalah seluruh sifat kesempurnaan. Sifat-sifat yang Ia miliki berada pada puncak kesempurnaan dan kebesaran. Sehingga dalam setiap sifat dari sifat-sifat-Nya, Ia berhak dipuji dengan pujian yang sempurna dan sanjungan yang sempurna. Lantas bagaimana dengan seluruh sifat-Nya yang suci? Milik-Nyalah segala pujian karena Dzat-Nya, milik-Nyalah segala pujian karena sifat-sifat-Nya, dan milik-Nyalah segala pujian karena perbuatan-perbuatan-Nya yang berkisar antara karunia dan kebaikan, serta antara keadilan dan hikmah yang dengannya Dia berhak mendapatkan pujian yang sempurna. Milik-Nyalah pula segala pujian karena penciptaan-Nya, karena syariat-Nya, karena hukum-hukum takdir-Nya atau hukum syariat-Nya, serta hukum pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat. Perincian pujian-Nya dan apa yang Dia dipuji karenanya tidaklah bisa dijangkau oleh pikiran dan tidak bisa dihitung oleh pena.”
Buah Mengimani Nama Allah Al-Hamid
Di antara buah mengimaninya adalah kita mengetahui kemuliaan sifat-sifat Allah l dan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya, di mana semua sifat dan perbuatan-Nya berhak untuk dipuji. Sehingga pantaslah kalau segala puji itu milik-Nya. Maka hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada-Nya atas segala ketetapan-Nya. Wallahu a’lam.
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Hayyu
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma’ul Husna adalah ﮨ (Al-Hayyu), Yang Maha Hidup.
Nama Allah Al-Hayyu ini telah disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya:
اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)
اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali ‘Imran: 2)
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan: 58)
“Dialah yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65)
Disebutkan pula dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamdahulu pernah berdoa:
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
“Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dan dengan kekuatan dari-Mulah aku bertikai dengan musuh. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu -tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau- dari Engkau sesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati sementara jin dan manusia mati semua.” (Shahih, HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan:
“Makna Al-Hayyu adalah yang memiliki sifat hidup dengan kehidupan yang sempurna dan abadi, di mana tidak menimpainya kematian ataupun fana, karena sifat hidup bagi-Nya merupakan sifat Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Suci. Sebagaimana sifat Al-Qayyum mengharuskan adanya seluruh sifat fi’liyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang terkait dengan perbuatan-Nya) yang sempurna, maka demikian pula sifat hidup-Nya mengharuskan adanya seluruh sifat dzatiyyah (yang terkait dengan Dzat-Nya) yang sempurna, baik itu sifat ilmu, kemampuan, keinginan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan semacamnya.” (Syarh Nuniyyah, 2/112 lihat juga hal. 66)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu mengatakan:
“Yakni yang memiliki kehidupan yang sempurna yang mengandung seluruh sifat kesempurnaan, tidak didahului oleh ketiadaan, dan tidak disudahi dengan kelenyapan, serta tidak tertimpa kekurangan pada sisi manapun.” (Syarh Al-Wasithiyyah hal. 134)
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma’ul Husna adalah ﮨ (Al-Hayyu), Yang Maha Hidup.
Nama Allah Al-Hayyu ini telah disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya:
اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Baqarah: 255)
اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” (Ali ‘Imran: 2)
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan: 58)
“Dialah yang hidup kekal, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Ghafir: 65)
Disebutkan pula dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamdahulu pernah berdoa:
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ
“Ya Allah, kepada-Mulah aku berserah diri, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mulah aku bertawakkal, kepada-Mulah aku kembali, dan dengan kekuatan dari-Mulah aku bertikai dengan musuh. Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu -tiada sesembahan yang benar melainkan Engkau- dari Engkau sesatkan aku, Engkaulah Yang Maha Hidup, yang tidak akan mati sementara jin dan manusia mati semua.” (Shahih, HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras mengatakan:
“Makna Al-Hayyu adalah yang memiliki sifat hidup dengan kehidupan yang sempurna dan abadi, di mana tidak menimpainya kematian ataupun fana, karena sifat hidup bagi-Nya merupakan sifat Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Suci. Sebagaimana sifat Al-Qayyum mengharuskan adanya seluruh sifat fi’liyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang terkait dengan perbuatan-Nya) yang sempurna, maka demikian pula sifat hidup-Nya mengharuskan adanya seluruh sifat dzatiyyah (yang terkait dengan Dzat-Nya) yang sempurna, baik itu sifat ilmu, kemampuan, keinginan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan semacamnya.” (Syarh Nuniyyah, 2/112 lihat juga hal. 66)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu mengatakan:
“Yakni yang memiliki kehidupan yang sempurna yang mengandung seluruh sifat kesempurnaan, tidak didahului oleh ketiadaan, dan tidak disudahi dengan kelenyapan, serta tidak tertimpa kekurangan pada sisi manapun.” (Syarh Al-Wasithiyyah hal. 134)
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
Al-Hayiy
Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dari Ya’la radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa memakai sarung. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan mengucapkan pujian serta sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian berkata:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu dan Maha menutupi. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutupi, maka bila seseorang dari kalian mandi hendaklah dia menutup diri.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4012 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Lihat juga Al-Irwa’ no. 2335)
Ibnu Qayyim rahimahullahu mengatakan:
Dan Dialah Yang Maha pemalu, maka Dia tidak akan membeberkan aib hamba-Nya
Saat dia terang-terangan melakukan kemaksiatan,
Namun justru Dia lontarkan tirai menutupinya
Memang Dia Maha menutupi dan pemberi ampunan
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras menjelaskan: “Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat penyebutan sifat malu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dalam hadits (Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu di atas). Juga seperti dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga orang yang mendapati majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ
“Salah seorang dari mereka berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berpaling darinya."1
Sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang pantas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak seperti sifat makhluk. Di mana sifat malu pada makhluk mengandung perubahan dan kelemahan yang memengaruhinya yaitu ketika dia merasa khawatir dari sesuatu yang aib atau tercela. Bahkan sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keluasan rahmat-Nya dan kesempurnaan kedermawanan-Nya, kemurahan-Nya serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya.
Sementara seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada-Nya padahal dia sangat butuh kepada-Nya dan paling lemah di hadapan-Nya. Bahkan dia memakai nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan sifat ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk dan kesempurnaan sifat kemampuan-Nya, Dia malu untuk menyingkap tabir aib hamba-Nya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya dengan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala persiapkan untuk menutupinya. Lalu setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan dan mengampuninya seperti dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekatkan kepada-Nya seorang mukmin lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupkan pada dirinya penutupnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?” Maka hamba itu pun mengatakan: “Ya, wahai Rabbku.” Sehingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta dia mengakui dosanya lalu dia pun yakin bakal hancur, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepadanya: “Aku telah tutup dosa itu padamu di dunia. Dan pada hari ini aku ampuni kamu.”2
Demikian pula Dia malu untuk menyiksa seorang yang berada dalam agama Islam sampai beruban, dan malu dari hamba-Nya yang berdoa menengadahkan dua tangannya, lalu mengembalikannya dalam keadaan hampa. Karena Allah Maha pemalu dan menutupi, maka Dia menyukai pada diri hamba-Nya sifat malu dan tidak mengumbar aib. Maka barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membenci orang yang terang-terangan dengan kefasikan (maksiat)nya serta terang-terangan dengan kekejiannya.
Di antara orang yang paling Allah Subhanahu wa Ta’ala benci adalah orang yang bermalam melakukan maksiat dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya, lalu dia sendiri yang membuka tutup aib itu di pagi harinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat. Dalam hadits disebutkan:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Semua umatku diberi maaf kecuali orang-orang yang terang-terangan (dengan dosanya).”
Buah mengimani nama Allah Al-Hayiy
Dengan mengimani nama Allah Al-Hayiy maka kita mengetahui keluasan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurahan-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya justru terus berbuat maksiat tanpa rasa malu kepada Dzat Yang Maha pemalu, tentu yang demikian sangat dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. Terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya. Suatu hal yang teramat dibenci Allah Yang Maha pemalu. Sehingga dengan hilangnya rasa malu, tak ada beban lagi bagi mereka untuk bergaul bebas dengan lawan jenis, bercanda ria, berjalan bersama, dan lebih dari itu. Malu rasanya mengungkapkannya...
Sungguh hal yang sangat memprihatinkan kita bersama. Inikah sebagian hasil pendidikan umum? Cobalah para guru dan para pendidik mengkaji ulang metode dan lingkungan pendidikan mereka, demi meraih ridha Allah Yang Maha pemalu serta demi masa depan moral dan agama anak-anak muslimin.
1 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 66 dan Muslim. Hadits di atas adalah lafadz Al-Bukhari. Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.
2 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 183 dengan lafadz Al-Bukhari, Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.
Dinukil dari www.asysyariah.com
Di antara Al-Asma’ul Husna adalah Al-Hayiy. Artinya, yang memiliki sifat Al-Hayaa’, yang berarti malu. Sehingga makna Al-Hayiy adalah Yang Maha pemalu. Dalam hadits dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah Maha pemalu dan pemurah. Dia malu bila seorang lelaki mengangkat kedua tangannya kepada-Nya lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 1488 dan At-Tirmidzi no. 3556 dan beliau mengatakan hasan gharib. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dari Ya’la radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang mandi di tempat terbuka tanpa memakai sarung. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan mengucapkan pujian serta sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian berkata:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu dan Maha menutupi. Dia mencintai sifat malu dan sifat menutupi, maka bila seseorang dari kalian mandi hendaklah dia menutup diri.” (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4012 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud. Lihat juga Al-Irwa’ no. 2335)
Ibnu Qayyim rahimahullahu mengatakan:
Dan Dialah Yang Maha pemalu, maka Dia tidak akan membeberkan aib hamba-Nya
Saat dia terang-terangan melakukan kemaksiatan,
Namun justru Dia lontarkan tirai menutupinya
Memang Dia Maha menutupi dan pemberi ampunan
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Al-Harras menjelaskan: “Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat penyebutan sifat malu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dalam hadits (Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu di atas). Juga seperti dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tiga orang yang mendapati majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ
“Salah seorang dari mereka berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun melindunginya. Yang lain, dia malu sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala pun malu darinya. Adapun yang lainnya lagi, dia berpaling sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berpaling darinya."1
Sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang pantas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak seperti sifat makhluk. Di mana sifat malu pada makhluk mengandung perubahan dan kelemahan yang memengaruhinya yaitu ketika dia merasa khawatir dari sesuatu yang aib atau tercela. Bahkan sifat malu Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya meninggalkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keluasan rahmat-Nya dan kesempurnaan kedermawanan-Nya, kemurahan-Nya serta keagungan ampunan dan kelembutan-Nya.
Sementara seorang hamba terang-terangan bermaksiat kepada-Nya padahal dia sangat butuh kepada-Nya dan paling lemah di hadapan-Nya. Bahkan dia memakai nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan sifat ketidakbutuhan-Nya kepada makhluk dan kesempurnaan sifat kemampuan-Nya, Dia malu untuk menyingkap tabir aib hamba-Nya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya dengan sebab-sebab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala persiapkan untuk menutupinya. Lalu setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memaafkan dan mengampuninya seperti dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
"Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mendekatkan kepada-Nya seorang mukmin lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupkan pada dirinya penutupnya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya kepadanya: “Apakah kamu tahu dosa ini? Apakah kamu tahu dosa ini?” Maka hamba itu pun mengatakan: “Ya, wahai Rabbku.” Sehingga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta dia mengakui dosanya lalu dia pun yakin bakal hancur, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan kepadanya: “Aku telah tutup dosa itu padamu di dunia. Dan pada hari ini aku ampuni kamu.”2
Demikian pula Dia malu untuk menyiksa seorang yang berada dalam agama Islam sampai beruban, dan malu dari hamba-Nya yang berdoa menengadahkan dua tangannya, lalu mengembalikannya dalam keadaan hampa. Karena Allah Maha pemalu dan menutupi, maka Dia menyukai pada diri hamba-Nya sifat malu dan tidak mengumbar aib. Maka barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membenci orang yang terang-terangan dengan kefasikan (maksiat)nya serta terang-terangan dengan kekejiannya.
Di antara orang yang paling Allah Subhanahu wa Ta’ala benci adalah orang yang bermalam melakukan maksiat dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menutupinya, lalu dia sendiri yang membuka tutup aib itu di pagi harinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam orang-orang yang suka tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum muslimin, bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat. Dalam hadits disebutkan:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Semua umatku diberi maaf kecuali orang-orang yang terang-terangan (dengan dosanya).”
Buah mengimani nama Allah Al-Hayiy
Dengan mengimani nama Allah Al-Hayiy maka kita mengetahui keluasan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemurahan-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya justru terus berbuat maksiat tanpa rasa malu kepada Dzat Yang Maha pemalu, tentu yang demikian sangat dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan mengimaninya, kita mengetahui bahwa sifat malu adalah sifat yang terpuji dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya kita juga menjaga sifat itu pada diri kita, dan senantiasa kita tumbuhkan pada diri kita serta anak keturunan kita juga anak didik kita. Terlebih di masa ini, di mana sifat malu tersebut hampir punah pada diri kawula muda baik perempuannya terlebih laki-lakinya. Suatu hal yang teramat dibenci Allah Yang Maha pemalu. Sehingga dengan hilangnya rasa malu, tak ada beban lagi bagi mereka untuk bergaul bebas dengan lawan jenis, bercanda ria, berjalan bersama, dan lebih dari itu. Malu rasanya mengungkapkannya...
Sungguh hal yang sangat memprihatinkan kita bersama. Inikah sebagian hasil pendidikan umum? Cobalah para guru dan para pendidik mengkaji ulang metode dan lingkungan pendidikan mereka, demi meraih ridha Allah Yang Maha pemalu serta demi masa depan moral dan agama anak-anak muslimin.
1 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 66 dan Muslim. Hadits di atas adalah lafadz Al-Bukhari. Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.
2 Shahih, HR. Al-Bukhari no. 183 dengan lafadz Al-Bukhari, Asy-Syaikh Al-Harras menyebutkan dengan lafadz yang sedikit berbeda.
Label:
AL ASMA AL KHUSNA
